Harga Plastik Melonjak, Pelaku Usaha di Padalarang Terhimpit Biaya Operasional
Para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) harus menghadapi tantangan berat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) harus menghadapi tantangan berat akibat lonjakan harga bahan kemasan.
Berbagai jenis plastik, mulai dari kantong kresek, gelas minuman, hingga styrofoam, mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan yang langsung membebani biaya operasional pedagang makanan dan minuman.
Kondisi ini diduga kuat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, khususnya konflik yang terjadi di Timur Tengah, yang mengganggu stabilitas pasokan bahan baku industri plastik.
Tak cuma itu, kelancaran distribusi dari tingkat produsen hingga pengecer juga dinilai belum optimal, sehingga memperparah kenaikan harga di tingkat pasar.
“Hampir semua jenis plastik mengalami kenaikan harga. Mulai dari kantong, gelas, sedotan, sampai styrofoam harganya meroket. Tentu saja ini membuat biaya operasional kami ikut terdampak sangat signifikan,” ujar Kiki (48), seorang pedagang bahan plastik di Padalarang, Kamis (9/4/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, kenaikan harga bervariasi tergantung jenis, ukuran, dan ketebalan bahan. Sebagai gambaran, plastik kiloan kini dijual antara Rp19.000 hingga Rp22.000 per kilogram.
Sementara untuk plastik kresek hitam berkisar Rp15.000-Rp25.000 per pack, tali rafia Rp23.000-Rp25.000 per gulung, gelas plastik Rp23.000-Rp55.000, hingga styrofoam yang mencapai Rp35.000-Rp55.000.
Kiki menjelaskan, karena hampir seluruh usaha kuliner bergantung pada kemasan plastik, kenaikan ini memaksa para pedagang untuk melakukan penghitungan ulang terhadap modal dan keuntungan.
Menurutnya, apabila kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan akan mengancam keberlangsungan usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
“Kami harus terus menghitung ulang modal, stok, dan harga jual. Kalau terus begini, usaha kecil bisa kesulitan bertahan," katanya.
"Kami berharap pemerintah tidak hanya membuat kebijakan di atas kertas, tapi benar-benar turun memantau distribusi dan ketersediaan bahan baku,” ungkapnya.
Dampak ini juga dirasakan langsung salah satu pedagang minuman, Lia (29) yang mengakui saat ini sedang berusaha menahan harga jual produknya agar tidak kehilangan pelanggan. Akibatnya, margin keuntungan yang didapat semakin tipis.
“Kami berusaha tidak menaikkan harga dulu demi pembeli, tapi untungnya jadi sangat kecil," kata Lia.
"Kalau harga plastik terus naik, mau tidak mau harga makanan dan minuman juga bakal ikut terdorong naik,” ucapnya.
Lia berharap adanya intervensi atau kebijakan konkret dari pemerintah, baik berupa stabilisasi harga maupun program bantuan, agar beban operasional bisa sedikit ringan.
"Karena stabilitas harga demi menjaga roda ekonomi masyarakat tetap berjalan normal," tandasnya. ***
Editor : JakaPermana

