Harga Telur dan Ayam Broiler Anjlok, DPRD Jabar Desak Pemerintah Segera Bertindak
Anjloknya harga telur ayam dan daging ayam broiler dikhawatirkan semakin menekan kondisi peternak di Jabar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Anjloknya harga telur ayam dan daging ayam broiler dikhawatirkan semakin menekan kondisi peternak di Jabar. Anggota Komisi II DPRD Jabar Saeful Bahri meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga sebelum kerugian peternak semakin besar.
Menurut Saeful, kondisi lesunya harga bukan semata-mata dipicu berhentinya sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) penyedia program makan bergizi gratis (MBG). Dia menilai terdapat sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi anjloknya harga di tingkat peternak.
"Peternak telur sekarang semakin banyak. Hampir di setiap daerah bermunculan peternak baru. Begitu juga usaha ayam pedaging terus bertambah sehingga pasokan melimpah," kata Saeful di Soreang, Rabu (1/7/2026).
Selain pasokan berlimpah, Saeful menilai daya beli masyarakat juga tengah melemah. Menurutnya, pola konsumsi masyarakat berubah sehingga permintaan terhadap telur maupun ayam broiler mengalami penurunan.
Dia juga menyoroti masuknya pasokan telur dan ayam dari daerah lain seperti Jawa Tengah dan Banten yang semakin memperketat persaingan di pasar, khususnya di Kabupaten Bandung.
Akibat kondisi tersebut, harga jual di tingkat peternak terus tertekan. Saat ini harga telur di tingkat pengecer berkisar Rp22.500 per kilogram, sementara harga di tingkat peternak diperkirakan hanya sekitar Rp20.000 per kilogram. Angka tersebut dinilai sudah berada di bawah biaya pokok produksi (HPP), terlebih di tengah harga pakan yang terus meningkat.
"Kalau melihat biaya produksi, tentu harga sekarang belum menutup ongkos yang harus dikeluarkan peternak. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah," ujarnya.
Saeful mendorong Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat bersama pemerintah pusat segera menyiapkan langkah penyelamatan. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali operasional program MBG agar mampu menyerap produksi peternak.
Selain itu, dia meminta pemerintah membantu pemasaran komoditas ayam dan telur hingga ke tingkat pengecer agar daya serap pasar meningkat. Menurutnya, jangan sampai kondisi di Jabar mengikuti daerah lain yang terpaksa membagikan telur secara cuma-cuma karena stok tidak terserap pasar.
"Intinya pemerintah harus cepat turun tangan. Jangan sampai peternak semakin merugi karena harga jual turun sementara harga pakan dan obat-obatan sangat tinggi," ujarnya.
Editor : Doni Ramdhani

