Produksi Melimpah, Harga Telur dan Daging Ayam Anjlok, Pemprov Jabar Siap Intervensi

Di tengah kondisi pasokan pangan yang aman dan terkendali, Pemprov Jabar justru menghadapi persoalan serius di sektor peternakan. 

Produksi Melimpah, Harga Telur dan Daging Ayam Anjlok, Pemprov Jabar Siap Intervensi
Melimpahnya produksi telur dan daging ayam menyebabkan harga jual di tingkat pasar anjlok, hingga berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP), menekan pendapatan peternak. (dok)

INILAHKORAN.ID - Di tengah kondisi pasokan pangan yang aman dan terkendali, Pemprov Jabar justru menghadapi persoalan serius di sektor peternakan. 

Melimpahnya produksi telur dan daging ayam menyebabkan harga jual di tingkat pasar anjlok, hingga berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP), menekan pendapatan peternak.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jabar Linda Al Amin mengungkapkan, persoalan over-supply telur dan daging ayam saat ini menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Ketersediaan kedua komoditas tersebut yang melimpah, tidak sebanding dengan tingkat serapan pasar, sehingga berdampak langsung terhadap harga jual.

"Saat ini yang sedang menjadi perhatian ialah kondisi ketersediaan telur dan daging ayam yang over supply dari peternak, sehingga menyebabkan harga di pasaran di bawah HAP," kata Linda dalam keterangan tertulisnya kepada INILAHKORAN.ID, Kamis (2/7/2026).

Kondisi tersebut membuat banyak peternak menghadapi tekanan, karena harga jual produk tidak mampu mengimbangi biaya produksi yang terus berjalan. Sebab itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan langkah intervensi untuk menjaga keberlangsungan usaha peternakan sekaligus meningkatkan konsumsi masyarakat.

"Upaya Pemprov Jabar diantaranya melakukan bela beli peternak, agar peternak tetap dapat memperoleh harga yang cukup untuk menutupi biaya produksi dan agar daya beli masyarakat akan daging ayam dan telur ayam meningkat," ucapnya.

Sisi lain, Linda memastikan kondisi ketahanan pangan Jawa Barat secara umum masih dalam kategori aman. Ketersediaan bahan pokok penting (bapokting) seperti beras, minyak goreng, gula pasir, daging sapi, telur, hingga komoditas hortikultura masih mencukupi kebutuhan masyarakat.

"Pasokan beras, minyak goreng, gula, telur, daging ayam, daging sapi, serta sebagian besar komoditas hortikultura masih tersedia dengan baik," tuturnya.

Dari sisi harga, mayoritas komoditas pangan juga masih relatif stabil. Namun beberapa komoditas tercatat mengalami fluktuasi yang dipengaruhi faktor distribusi, musim, dan pasokan dari daerah sentra produksi.

Meski demikian, Pemprov Jabar mencatat sejumlah komoditas strategis masih mengalami pergerakan harga, di antaranya bawang merah, daging sapi, minyak goreng, dan gula pasir. Namun pemerintah memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan stok.

"Sampai saat ini tidak terdapat kelangkaan bahan pangan strategis di Jawa Barat. Namun fluktuasi harga terjadi pada beberapa komoditas, yaitu di komoditi bawang merah, daging sapi, minyak goreng, dan gula pasir," ungkapnya.

Menurut Linda, dinamika harga tersebut lebih dipengaruhi faktor distribusi dan perubahan musim dibandingkan persoalan ketersediaan barang di pasar.

"Fluktuasi tersebut umumnya dipengaruhi oleh faktor distribusi, perubahan musim, serta penyesuaian pasokan dari daerah sentra produksi, bukan karena kekurangan stok secara umum," jelasnya.

Guna menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mengendalikan inflasi, Pemprov Jabar terus melakukan pemantauan harian melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, Bulog, BUMD pangan, serta pelaku usaha. Selain itu, Gerakan Pangan Murah (GPM) terus digelar di berbagai daerah sebagai langkah antisipasi gejolak harga.

"Pemerintah terus memonitor perkembangan harga setiap harinya melalui aplikasi Panel Harga Badan Pangan Nasional agar kenaikan yang terjadi tidak berlangsung berkepanjangan dan melakukan langkah preventif dengan melaksanakan Gerakan Pangan Murah di beberapa titik di 27 kabupaten/kota," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani