INILAHKORAN - Banyak orang percaya bahwa selama bulan Ramadhan, setan dikurung sehingga manusia lebih mudah menjalankan ibadah.
Namun, Buya Yahya mengingatkan bahwa meskipun setan tidak bebas berkeliaran, seseorang tetap bisa kehilangan pahala puasanya jika melakukan perbuatan tercela.
Dalam salah satu kajiannya yang disiarkan melalui YouTube Al Bahjah TV, Buya Yahya menjelaskan bahwa puasa memiliki dua aspek utama.
Secara lahiriah, puasa berarti menahan lapar dan haus. Namun, secara batiniah, puasa juga mengharuskan seseorang menjauhi segala hal yang bisa membatalkan atau menghapus pahala puasanya.
"pahala itu tidak terlihat oleh manusia, hanya Allah yang mengetahui. Tapi pahala puasa bisa saja datang dan hilang, tergantung pada bagaimana kita menjalankan ibadah tersebut," ujar Buya Yahya.
puasa Bisa Sia-Sia Jika Dibarengi Maksiat
Buya Yahya mengingatkan bahwa ada banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan pahala, melainkan hanya sekadar menahan lapar dan haus.
"Alangkah banyaknya orang berpuasa, tetapi yang ia dapatkan hanyalah rasa lapar dan dahaga," tuturnya.
Hal ini terjadi karena seseorang masih melakukan maksiat di tengah ibadah puasanya. Begitu pula dengan ibadah lainnya, seperti shalat malam yang seharusnya penuh keberkahan, bisa menjadi sia-sia jika diiringi dengan perbuatan buruk.
"Alangkah banyaknya orang bangun di tengah malam, tetapi yang ia dapat hanya rasa lelah karena begadang," lanjutnya.
Menurut Buya Yahya, kemaksiatan menghapus pahala ibadah. Orang yang berpuasa tetapi tetap melakukan perbuatan buruk justru akan mendapatkan dosa, bukan pahala.
"Dapat apa dia? Malah dapat dosa," tegasnya.
Perbuatan yang Bisa Menghilangkan pahala puasa
Ada beberapa perbuatan yang sering dilakukan tanpa sadar, tetapi justru bisa menghapus pahala puasa. Beberapa di antaranya adalah:
- Menggunjing (ghibah)
- Mencaci dan mengolok-olok orang lain
- Berkata kasar atau menyebarkan kebohongan
"Di dalam puasa, hendaknya kita menghindari hal-hal yang membuat Allah murka, seperti menggunjing, mencaci, dan mengolok-olok," jelas Buya Yahya.
Oleh karena itu, beliau mengingatkan pentingnya menjaga lisan selama bulan Ramadhan. Menahan lapar dan haus memang penting, tetapi lebih dari itu, seseorang juga harus mampu menahan diri dari berkata buruk dan menyakiti orang lain.
"Lisan kita harus dijaga, jangan mudah emosi," tambahnya.
Jadikan Ramadhan Sebagai Latihan Diri
Buya Yahya menekankan bahwa bulan Ramadhan adalah kesempatan bagi setiap Muslim untuk melatih diri agar terbiasa menghindari perbuatan buruk, bahkan setelah Ramadhan berakhir.
"Kita latih di bulan Ramadhan, sehingga setelah bulan Ramadhan berlalu, kita tetap bisa menjaga diri dan tidak mudah terpengaruh," ujarnya.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa seseorang yang berpuasa tetapi masih suka berbohong tidak akan mendapatkan perhatian dari Allah.
"Dia meninggalkan makan dan minum, tetapi tetap berbohong, maka puasanya tidak dipandang oleh Allah," kata Buya Yahya.
Jaga Lisan, Jaga pahala
Sebagai penutup, Buya Yahya mengajak umat Muslim untuk lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan bertindak selama bulan Ramadhan agar tidak kehilangan pahala yang telah dikumpulkan.
"Mari kita jaga lisan agar tidak berbohong, tidak mengucapkan kata-kata yang menimbulkan permusuhan, atau menyakiti orang lain," pesannya.
"Ingatlah bahwa kita sedang menjalankan ibadah puasa di bulan yang mulia, bulan Ramadhan," pungkasnya.
Dengan menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik, Ramadhan tidak hanya menjadi bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momen penyucian diri yang membawa keberkahan bagi kehidupan.