Houthi Kuasai Pesisir Yaman, Bab al-Mandab Terancam dan Saudi Hadapi Dilema

Houthi memperluas kendali di pesisir Yaman hingga Bab al-Mandab. Perkembangan ini meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran dan ekspor energi global.

Houthi Kuasai Pesisir Yaman, Bab al-Mandab Terancam dan Saudi Hadapi Dilema
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Konflik Yaman kembali memasuki fase baru setelah Gerakan Ansar Allah atau Houthi memperluas kendali ke kawasan pesisir barat negara tersebut dan bergerak mendekati Selat Bab al-Mandab.

Perkembangan ini terjadi ketika koalisi anti-Houthi yang selama bertahun-tahun didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menghadapi persoalan internal. Ketegangan antara Riyadh dan Abu Dhabi serta persaingan di antara kelompok-kelompok Yaman yang berseberangan dengan Houthi ikut memengaruhi peta kekuatan di lapangan.

Dalam ofensif yang berlangsung pada September 2026, Houthi merebut sejumlah posisi strategis di pesisir Laut Merah, termasuk kota pelabuhan Mokha. Mereka kemudian mengambil alih Pulau Perim yang berada di Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran penting dunia.

Penguasaan kawasan tersebut memberikan dimensi strategis baru bagi konflik Yaman. Bab al-Mandab menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu jalur penting bagi perdagangan serta pengiriman Energi dari kawasan Timur Tengah.

Bagi Arab Saudi, perkembangan itu menjadi persoalan serius karena Bab al-Mandab merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak melalui Laut Merah menuju pasar Asia.

Sebelumnya, Saudi memiliki alternatif untuk menghindari Selat Hormuz melalui jaringan pipa East-West yang menghubungkan wilayah timur Saudi dengan terminal Yanbu di Laut Merah. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa jalur alternatif tersebut juga menghadapi gangguan. New York Times melaporkan Saudi sempat menghentikan operasi pipa penting tersebut setelah serangan pesawat nirawak.

Dengan Houthi kini menguasai titik-titik penting di sekitar Bab al-Mandab, ancaman terhadap jalur ekspor minyak Saudi menjadi semakin kompleks.

Saudi Minta Bantuan Trump

Situasi tersebut juga membuat Arab Saudi meminta dukungan Amerika Serikat. Menurut laporan New York Times, Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah berbicara langsung dengan Presiden AS Donald Trump dan meminta tindakan militer terhadap Houthi.

Namun, Washington menghadapi dilema untuk terlibat langsung dalam konflik tersebut. Trump pada akhirnya memutuskan untuk tidak melancarkan serangan udara terhadap Houthi, setidaknya untuk sementara waktu, meski Amerika Serikat tetap melakukan komunikasi dengan Saudi dan pemerintah Yaman.

Salah satu pertimbangannya adalah risiko terbukanya front baru dalam konflik Timur Tengah. Keterlibatan militer AS di Yaman berpotensi kembali memicu serangan Houthi terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Houthi sendiri menyatakan bahwa mereka tidak berniat menyerang kapal Amerika Serikat, tetapi memberikan peringatan terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi. Pada saat yang sama, kelompok tersebut telah memberlakukan pembatasan terhadap pelayaran Saudi di Laut Merah.

Situasi tersebut menempatkan Washington dalam posisi sulit. Amerika Serikat membutuhkan kerja sama Saudi dalam menghadapi konflik dengan Iran, tetapi keterlibatan langsung melawan Houthi juga berisiko memperluas konflik.

Perpecahan di Koalisi Anti-Houthi

Menguatnya posisi Houthi tidak terlepas dari kompleksitas politik di kubu lawan.

Konflik Yaman tidak hanya mempertemukan Houthi dengan pemerintah yang didukung Saudi. Di dalam kubu anti-Houthi sendiri terdapat berbagai kelompok dengan kepentingan berbeda.

Dewan Kepemimpinan Presiden atau Presidential Leadership Council (PLC) menjadi pemerintahan yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi. Sementara itu, Southern Transitional Council (STC) selama bertahun-tahun mendapatkan dukungan UEA dan memperjuangkan agenda politik untuk wilayah selatan Yaman.

Persaingan Saudi dan UEA di Yaman mencapai titik serius pada akhir 2025 hingga awal 2026. Pasukan yang didukung Saudi kemudian merebut kembali sejumlah wilayah dari STC, termasuk Hadramaut dan al-Mahra, serta mengambil alih Aden.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kelompok-kelompok yang sama-sama menentang Houthi tidak selalu memiliki kepentingan yang sama.

Perbedaan agenda itu menjadi salah satu persoalan dalam upaya membangun kekuatan anti-Houthi yang solid. Sejumlah analis menilai fragmentasi tersebut ikut memberikan ruang bagi Houthi untuk memanfaatkan situasi dan memperluas pengaruhnya.

Dari Perang Saudara Menjadi Ancaman Jalur Pelayaran

Perang Yaman yang kembali berkobar kini tidak lagi hanya menjadi persoalan perebutan wilayah di dalam negeri.

Kemajuan Houthi ke pesisir Laut Merah dan Bab al-Mandab membuat konflik tersebut bersentuhan langsung dengan keamanan jalur perdagangan internasional.

Bab al-Mandab merupakan salah satu titik sempit strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Penguasaan wilayah di sekitarnya memberikan Houthi kemampuan lebih besar untuk memengaruhi lalu lintas kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Perkembangan ini menjadi semakin penting karena terjadi bersamaan dengan gangguan di Selat Hormuz. Jika kedua jalur tersebut sama-sama menghadapi risiko keamanan, pengiriman energi dari kawasan Timur Tengah menuju pasar dunia dapat menghadapi tekanan lebih besar.

Sejumlah laporan bahkan menyebut Houthi kini memiliki pengaruh terhadap salah satu dari dua jalur maritim utama yang menjadi tumpuan pengiriman energi dari Timur Tengah.

Karena itu, perkembangan di Yaman berpotensi memiliki dampak jauh melampaui konflik domestik. Gangguan berkepanjangan di Bab al-Mandab dapat mendorong perusahaan pelayaran mengubah rute, meningkatkan biaya transportasi dan asuransi, serta memberikan tekanan terhadap rantai pasok global.

Dengan demikian, perkembangan terbaru di Yaman memperlihatkan bagaimana konflik lokal dapat berubah menjadi persoalan keamanan maritim internasional. Perebutan wilayah oleh Houthi di pesisir Laut Merah kini tidak hanya menjadi perhatian Saudi dan negara-negara kawasan, tetapi juga negara-negara yang bergantung pada kelancaran perdagangan dan energi melalui jalur tersebut.***


Editor : JakaPermana