Hujan Picu Kematian Ikan di Saguling, Blok Ugrem Catat Kerugian 15 Ton

Sebanyak 22,12 ton ikan mas mati di keramba Waduk Saguling setelah hujan mengguyur wilayah hulu. Blok Ugrem Cililin mencatat kerugian terbesar 15 ton.

Hujan Picu Kematian Ikan di Saguling, Blok Ugrem Catat Kerugian 15 Ton
Sebanyak 22,12 ton ikan mas mati di keramba Waduk Saguling setelah hujan mengguyur wilayah hulu. Blok Ugrem Cililin mencatat kerugian terbesar 15 ton.

INILAHKORAN.ID-Hujan yang mengguyur wilayah hulu sungai menuju Waduk Saguling pada rentang 31 Oktober - 2 November 2026 membawa aliran air keruh dan sisa limbah ke badan waduk, memicu kematian massal ikan mas di keramba jaring apung sejumlah blok budidaya. 

Berdasarkan data gabungan dari pembudidaya dan pengepul ikan, total kerugian akibat kematian ikan mencapai 22,12 ton yang tersebar di Bongas Cililin 2 ton, Cikadu Cililin 3 ton, Ugrem Cililin 15 ton, Balong Cililin 2 ton, Pakuwon Desa Jati 50 kilogram, Cijati Desa Saguling 30 kilogram, serta Mariuk Desa Girimukti 40 kilogram. 

Kejadian ini menimbulkan tekanan besar terhadap ekosistem perairan waduk sekaligus pendapatan puluhan pembudidaya, padahal Dispernakan Kabupaten Bandung Barat sudah mengeluarkan surat imbauan resmi sejak tanggal 9 Oktober 2026 untuk mengantisipasi fenomena upwelling saat peralihan musim hujan. 

Surat imbauan bernomor 500.5.3/3593/Dispernakan/2026 yang disusun merujuk arahan Kementerian Kelautan dan Perikanan ditujukan kepada camat enam kecamatan sentra budidaya ikan yakni Cililin, Batujajar, Saguling, Cipongkor, Cihampelas, dan Cipeundeuy agar menyebarkan peringatan dini kepada seluruh pemilik keramba jaring apung. 

Isi surat memuat dua jalur penanganan, yakni langkah‑langkah pencegahan sebelum upwelling terjadi, serta prosedur evakuasi apabila fenomena penurunan kadar oksigen terlarut sudah menimpa perairan.

"Sebelum kejadian massal ini, Dispernakan telah mengingatkan adanya penurunan oksigen terlarut bisa terjadi hanya dalam hitungan jam dan menimbulkan kerugian ratusan juta rupiah apabila pembudidaya tidak segera menyesuaikan kepadatan ikan, membatasi pakan, serta menambah aerasi di keramba mereka," kata kata Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Wiwin Aprianti melalui Kepala Bidang Perikanan Dispernakan KBB, Dindin Rustandi, Rabu (4/11/2026).

Meski jaringan informasi telah dibangun melibatkan penyuluh perikanan, POKMASWAS, POKDAKAN, perangkat kecamatan dan kelurahan, kejadian kematian massal ini menunjukkan masih ada celah penyebaran peringatan dini ke lokasi‑lokasi terdampak terutama blok Ugrem yang mencatat kerugian terbesar mencapai 15 ton ikan mas.

Pihaknya kembali mengimbau seluruh pembudidaya untuk tidak mengabaikan tanda‑tanda perubahan kualitas air waduk sepanjang November hingga Desember 2026. 

"Apabila ikan sudah mulai mati, bangkai ikan harus segera diangkat dari keramba agar tidak memperburuk kualitas air dan menimbulkan kematian beruntun ke keramba‑keramba tetangga," ucapnya. 

"Sementara jika ikan yang masih layak dikonsumsi dapat diselamatkan untuk dijual, sedangkan ikan yang sudah rusak harus dikubur jauh dari sumber air dan pemukiman warga guna mencegah pencemaran tambahan," sambungnya.


Editor : JakaPermana