Peralihan Musim Picu Risiko Ikan Mati Massal, Enam Kecamatan di KBB Diminta Waspada
Dispernakan Bandung Barat mengingatkan enam kecamatan mewaspadai fenomena upwelling atau umbala yang dapat memicu kematian ikan massal dan kerugian pembudidaya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Peralihan musim yang disertai cuaca ekstrem meningkatkan risiko kematian ikan secara massal bagi pembudidaya di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Fenomena Upwelling atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai Umbala menjadi salah satu ancaman serius bagi usaha budidaya ikan di perairan umum.
Upwelling merupakan fenomena naiknya massa air dari bagian dasar danau atau waduk ke permukaan. Pergerakan tersebut dapat membawa air dengan kadar oksigen terlarut rendah sehingga memicu kematian ikan dalam jumlah besar, bahkan dalam waktu singkat.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Wiwin Aprianti melalui Kepala Bidang Perikanan, Dindin Rustandi, mengatakan enam kecamatan sentra budidaya ikan di perairan umum kini berada dalam zona waspada.
"Jika tidak diantisipasi, kerugian yang ditimbulkan dapat mencapai ratusan juta rupiah, mengingat enam kecamatan sentra budidaya ikan di perairan umum kini berada dalam zona waspada," kata Dindin, Senin, 2 November 2026.
Sebagai langkah antisipasi, Dispernakan KBB telah menerbitkan surat imbauan resmi bernomor 500.5.3/3593/Dispernakan/2026 tertanggal 9 Oktober 2026. Surat tersebut disusun berdasarkan arahan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Imbauan itu ditujukan kepada para camat di enam wilayah, yakni Cililin, Batujajar, Saguling, Cipongkor, Cihampelas, dan Cipeundeuy. Mereka diminta menyampaikan peringatan dini secara langsung kepada para pembudidaya, terutama yang menggunakan sistem Keramba Jaring Apung (KJA).
"Langkah proaktif ini diambil bukan tanpa alasan, mengingat penurunan kadar oksigen terlarut dapat terjadi secara tiba-tiba dan merambat luas dalam waktu sangat terbatas," ungkapnya.
Dindin menyebutkan, fenomena kematian ikan secara massal saat ini juga terjadi di wilayah Saguling. Namun, pihaknya masih melakukan pendataan untuk mengetahui dampak dan jumlah kerugian yang ditimbulkan.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Dispernakan KBB telah menyiapkan panduan bagi pembudidaya. Panduan tersebut mencakup langkah pencegahan sebelum umbala terjadi hingga penanganan darurat ketika fenomena itu berlangsung.
Beberapa langkah teknis yang dianjurkan di antaranya mengurangi kepadatan ikan dalam keramba, membatasi pemberian pakan, serta menambah aerasi untuk membantu meningkatkan ketersediaan oksigen.
"Mengurangi kepadatan ikan, membatasi pakan, dan menambah aerasi menjadi tiga langkah teknis utama yang dapat dilakukan pembudidaya secara mandiri," ujarnya.
Sementara itu, apabila kematian ikan sudah terjadi, bangkai ikan harus segera diangkat dan dipisahkan dari perairan. Bangkai yang dibiarkan di dalam air dikhawatirkan memperburuk kualitas air dan memperluas dampak kematian ikan.
"Ikan yang masih layak konsumsi harus segera diselamatkan, sedangkan yang tidak layak wajib dikubur jauh dari sumber air dan pemukiman warga," ucapnya.
Dispernakan KBB juga membangun sistem peringatan dini secara terpadu dengan melibatkan Penyuluh Perikanan, Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS), Paguyuban Pembudidaya Ikan (POKDAKAN), serta perangkat kecamatan dan kelurahan.
Melalui sistem tersebut, informasi mengenai keramba yang mulai terdampak diharapkan dapat segera disebarluaskan kepada pembudidaya lain agar langkah penyelamatan bisa dilakukan lebih cepat.
"Informasi ada satu keramba mulai terdampak harus menyebar secepat kilat agar pembudidaya lain dapat segera bertindak. Evaluasi berkala juga dijadwalkan akan dilakukan secara ketat," ujarnya.
Dispernakan KBB juga akan mengevaluasi efektivitas sistem peringatan dini dan penerapan langkah teknis di lapangan. Evaluasi tersebut diperlukan apabila kerugian pembudidaya masih tinggi meskipun imbauan dan langkah antisipasi telah disampaikan.
"Jika kerugian masih tinggi meski imbauan telah disampaikan, maka efektivitas sistem peringatan dini maupun penerapan langkah teknis di lapangan akan ditinjau ulang secara menyeluruh demi menghadapi musim-musim ke depan," pungkasnya.***
Editor : JakaPermana

