Ikhtiar Tangkal Ancaman Begal
JALAN yang gelap tak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga rasa aman. Pemkot Bandung kini berpacu mengembalikan keduanya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yogo Triastopo
Malam selalu punya dua wajah. Di satu sisi menghadirkan ketenangan, di sisi lain menyimpan kecemasan ketika cahaya mulai menghilang.
Di sejumlah ruas jalan Kota Bandung, lampu-lampu yang seharusnya menjadi penunjuk arah dan penjaga rasa aman tak lagi menyala optimal. Jalanan menjadi lebih gelap. Bayangan pepohonan memanjang, sementara kendaraan melintas dengan kewaspadaan lebih tinggi.
Bagi sebagian warga, kondisi itu bukan sekadar persoalan penerangan. Jalan yang gelap menghadirkan rasa waswas, terutama ketika harus pulang larut malam. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pun tak menampik kenyataan tersebut.
"Soal jalan gelap, saya akui memang begitu," katanya, Senin (20/7).
Pengakuan itu menjadi penanda, persoalan lampu jalan kini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan Pemerintah Kota Bandung.
Farhan menjelaskan, pemerintah kota sedang menyusun ulang anggaran agar program perbaikan penerangan jalan bisa segera berjalan. Karena proses tersebut masih berlangsung, dia belum berani menghidupkan kembali program "Bandung Terang" yang pernah menjadi salah satu ikon penataan kota.
Menurutnya, keterlambatan itu dipengaruhi penyesuaian anggaran sekaligus proses pengadaan lampu yang membutuhkan waktu. "Saya mohon maaf karena memang agak lambat," ujarnya.
Semula, pengadaan lampu direncanakan dimulai pada triwulan kedua tahun ini. Namun jadwal tersebut harus dirombak. Kini pemerintah kota menargetkan pelaksanaannya berlangsung pada triwulan ketiga hingga triwulan keempat.
Bagi Farhan, persoalan penerangan bukan sekadar urusan infrastruktur. Lampu jalan adalah bagian dari sistem keamanan kota.
Setiap malam, ada beberapa kawasan yang menjadi perhatiannya. Salah satunya Jalan Layang Kopo beserta ruas di bawahnya yang masih menjadi titik rawan. "Setiap malam saya juga sangat khawatir, terutama di Jalan Layang Kopo dan bawahnya," katanya.
Kekhawatiran serupa juga mengarah ke kawasan Kiaracondong. Wilayah itu dinilai masih membutuhkan perhatian serius karena aktivitas masyarakat tetap tinggi hingga malam hari.
Bahkan, Farhan mengaku pernah menangkap langsung satu kelompok yang diduga terlibat aksi begal di kawasan tersebut.
Meski begitu, dia menegaskan penanganan keamanan tidak mungkin dilakukan pemerintah kota sendirian. Koordinasi dengan kepolisian terus dilakukan agar pengawasan tetap berjalan.
Menurutnya, Kapolda Jawa Barat telah memerintahkan jajarannya melakukan tindakan tegas terhadap pelaku kriminalitas.
Pada saat lampu-lampu kota belum sepenuhnya kembali menyala, pemerintah kota memilih memperkuat kehadiran petugas di lapangan. Salah satunya dengan memajukan jadwal patroli malam.
Jika sebelumnya patroli rutin dilakukan sekitar pukul 02.00 WIB, kini Farhan memilih turun lebih awal, yakni mulai pukul 00.00 WIB. Perubahan itu dilakukan agar potensi gangguan keamanan bisa dipantau sebelum situasi semakin rawan. (gin)
Editor : Inilahkoran

