Ilmu Terbuka Inovasi Terjaga
ILMU pengetahuan tak lagi cukup disimpan di ruang akademik. Keterbukaan menjadi jalan agar pengetahuan, teknologi, dan gagasan dapat tumbuh bersama.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Pengetahuan tak seharusnya berhenti di ruang laboratorium atau halaman jurnal. Semakin terbuka ilmu dibagikan, semakin luas pula peluangnya melahirkan penemuan dan perubahan.
Semangat itu yang kini didorong Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui dukungan terhadap UNESCO Recommendation on Open Science.
Keterbukaan ilmiah tidak hanya menyangkut publikasi, tetapi juga data, sumber daya pendidikan, perangkat lunak dan perangkat keras, infrastruktur terbuka, hingga keterlibatan masyarakat dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengatakan agenda tersebut sejalan dengan sejumlah program kerja sama yang telah dan sedang dilakukan bersama United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
“Terutama yang dilakukan oleh Kemdiktisaintek adalah satu bagian dari program yang dilakukan UNESCO, yaitu open science, yang kemudian dijabarkan dalam beberapa program. Untuk diplomasi sains dan teknologi, ada beberapa hal yang kami dorong, termasuk penguatan talenta STEM serta isu open science,” kata Fauzan, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (29/9).
Sejumlah program menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem tersebut. Di antaranya penguatan literasi sains melalui Program Berdikari, pengembangan Saintek Nusantara, Sentral Saintek, CTSA, Open Lab Mini, hingga peningkatan reputasi internasional jurnal ilmiah melalui Cakrawala Saintek.
Kemdiktisaintek juga mendorong berbagai program yang mempertemukan talenta dengan jejaring ilmu pengetahuan global. Beberapa di antaranya International Mathematics Competition, Asia-Pacific Broadcasting Union Robot Contest, Residensi Riset Sains dan Teknologi, serta Lindau Nobel Laureate Meetings.
Fauzan mengusulkan tiga jalur penguatan dalam kerja sama dengan UNESCO. Pertama, kebijakan dan tata kelola sumber daya. Kedua, pengembangan talenta. Ketiga, penguatan riset dan inovasi melalui open science, kecerdasan buatan atau AI, serta kolaborasi dengan masyarakat.
“Usulan tersebut menjadi bagian dari portofolio kerja Kemdiktisaintek untuk periode 2026-2027,” ujarnya.
Berbagai program itu juga diarahkan menjadi bagian dari diplomasi sains dan teknologi Indonesia melalui UNESCO. Kerja sama internasional diharapkan dapat memperluas jejaring sekaligus memberikan manfaat bagi pengembangan ekosistem sains dan teknologi nasional.
Penguatan tersebut berjalan bersamaan dengan pembenahan peran Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU). Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua KNIU Fadli Zon mengatakan kementerian dan lembaga tetap menjalankan mandat serta kewenangan substantif masing-masing dalam pelaksanaan program dan konvensi UNESCO.
KNIU berperan sebagai fasilitator koordinasi, sinkronisasi, dan komunikasi antar-pemangku kepentingan. Penguatan kelembagaan dilakukan melalui pembaruan data focal point serta peningkatan sinergi antara kementerian dan lembaga, Sekretariat KNIU, dan Delegasi Tetap RI untuk UNESCO. (gin)
Editor : Inilahkoran

