Ini Alasan Dedi Mulyadi Gelar Sayembara Puluhan Juta Rupiah untuk Tangkap Begal
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi membela kebijakan sayembara berhadiah puluhan juta rupiah bagi warga yang berhasil menangkap pelaku begal dan kejahatan jalanan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jabar Dedi Mulyadi membela kebijakan sayembara berhadiah puluhan juta rupiah bagi warga yang berhasil menangkap pelaku begal dan kejahatan jalanan.
Pendekatan berbasis insentif diakui Dedi Mulyadi lebih efektif untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan.
Dedi Mulyadi bahkan menegaskan hadiah yang dijanjikan kepada warga tidak menggunakan anggaran pemerintah, melainkan berasal dari kantong pribadinya.
"Enggak, dari saya dulu saja. Nanti kalau kewalahan, baru," ujar Dedi di Kota Bandung, Jumat (24/7/2026).
Menurut Dedi, konsep sayembara bukan sekadar soal uang, melainkan instrumen untuk membangun motivasi sosial di tengah masyarakat. Ia menilai budaya penghargaan telah lama menjadi bagian dari karakter masyarakat Indonesia.
"Karena begini, tradisi bangsa kita itu tradisi hadiah. Di sekolah, kalau ada ranking pertama dan diumumkan, belajarnya jadi rajin. Kemudian daerah, kalau dilombakan, juga jadi rajin," ujarnya.
Dedi menilai, insentif dapat menjadi pemicu psikologis agar warga lebih aktif melakukan pengawasan lingkungan, termasuk menghidupkan kembali kegiatan ronda malam.
"Logikanya sederhana. Misalnya ada maling motor, jangan digebuki sampai mati. Kalau ada sayembara dari saya, tidak usah digebuki sampai mati, lumayan, Rp10 juta kalau diantarkan. Itu secara psikologis akan memengaruhi," katanya.
Ia berharap, keberadaan hadiah membuat masyarakat memilih menyerahkan pelaku kepada polisi dibanding melakukan aksi main hakim sendiri.
"Jadi ini dibuat untuk memicu orang, misalnya ronda. Sudah, ronda saja. Nanti kalau ada maling ayam, kan lumayan. Nah, yang seperti itu harus memacu warga kita. Warga kita kan belum seperti warga di negara maju lainnya. Kita harus terus dimotivasi," tutur Dedi.
Meski demikian, Dedi menegaskan hadiah hanya akan diberikan kepada warga yang menangkap pelaku sesuai prosedur hukum. Pelaku yang ditangkap harus terlebih dahulu ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian.
Selain itu, ia memberi syarat tegas bahwa pelaku tidak boleh diserahkan dalam kondisi mengalami penganiayaan berat.
"Ya, nanti yang diberi hadiah itu yang sudah memenuhi kualifikasi dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres. Kalau dalam keadaan babak belur, ya tidak boleh. Tidak boleh mereka diserahkan dalam keadaan babak belur. Lecet sedikit mungkin boleh, tapi kalau babak belur, kita tidak kasih hadiah," tegasnya.
Menanggapi kritik yang menyebut sayembara berpotensi membuat masyarakat bertindak pragmatis demi mengejar hadiah, Dedi justru menilai insentif merupakan bagian dari realitas kehidupan saat ini.
"Pertanyaan saya, mana sih yang sekarang tidak ada pragmatis? Orang bekerja juga ingin ada honor. Kalau kita menunggu wacana terus, tidak selesai-selesai. Buktinya baru semalam, sekarang patroli sudah mulai ramai," katanya.
Dedi mengklaim, dampak awal kebijakan tersebut sudah mulai terlihat dengan meningkatnya aktivitas patroli dan ronda warga di sejumlah wilayah. Pemprov Jabar berharap keterlibatan masyarakat dapat mempersempit ruang gerak pelaku begal yang belakangan meresahkan masyarakat, terutama di kawasan Bandung Raya.
Editor : Doni Ramdhani

