Ini Dampak Tumpahan Minyak di Karawang
Neyalan dan petani tambak di Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat ikut berdampak sekitar semburan gas dan tumpahan minyak di proyek YYA-1, Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang dioperatori oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH Jakarta - Neyalan dan petani tambak di Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat ikut berdampak sekitar semburan gas dan tumpahan minyak di proyek YYA-1, Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang dioperatori oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Karliansyah, menjelaskan akibat tumpahan minyak itu, area nelayan untuk mencari ikan di laut menjadi sangat terbatas. Atau tidak boleh mendekat ke area semburan gas.
Sedangkan dampak ke petani tambak hingga saat ni belum ada rincian pasti. Artinya tentang kondisi para petani tambak yang menjadi tidak bisa memanen hasilnya atau dampak yang lain. Tapi dia memastikan tambak di sekitar proyek anak usaha Pertamina tersebut, ikut terdampak.
"Untuk nelayan yang memiliki tambak memang ada dampaknya. Untuk melaut bagi nelayan, ada juga pembatasan (nelayan) untuk tidak mendekat ke area semburan," kata Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Karliansyah, Minggu (28/7/2019).
Dia mengamini penanganan tumpahan minyak ini sulit dilakukan dikarenakan pengaruh cuaca. "Medannya sangat sulit karena di laut, pengaruh angin dan gelombang laut sangat tinggi," ujar dia.
Namun dia belum bisa memastikan seberapa parah dampak semburan minyak ini. Sebab, sampai saat ini KLHK dan tim Pertamina masih melakukan kajian terhadap ait laut yang terdampak.
"Petugas kami bersama tim pertamina sudah mengambil sampel kualitas air laut, pengumpulan data pemilik keramba/tambak masyarakat dan pembersihan tumpahan minyak di pantai desa terdampak. Belum ada analisis lab," ujar dia.
Pertamina sendiri beberapa waktu lalu mengatakan belum tahu dengan pasti mengenai penyebab kebocoran gas yang disertai semburan minyak ke laut. Bahkan Pertamina selaku induk dari Pertamina Hulu Energi sampai mengambil alih penanganan masalah ini.
"Saat ini (penanganan) ditarik ke level korporat sebagai komitmen Pertamina menyelesaikan masalah ini seintensif mungkin," kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman beberapa waktu lalu.
Nah, sampai sekarang ini, belum ada keterangan lagi dari Pertamina lagi tentang perkembangan dalam mengatasi dampak tumpahan tersebut. Namun yang pasti, hingga Kamis (25/7/2019) semburan dan tumpahan minyak belum bisa teratasi.
Sementara Plt Dirjen Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto sudah mengatakan potensi gelembung gas disertai minyak di proyek YYA-1, Blok Offshore North West Java (ONWJ), berpotensi seperti bencana tumpahan minyak di Teluk Meksiko, Amerika Serikat. Insiden tersebut sudah difilmkan dengan judul Deep Horizon.
"Pernah menonton Deep Horizon nggak? Kejadian buruknya bisa seperti (film) itu," kata Djoko,di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (17/7/2019).
Nah, untuk mencegah risiko terburuk itu, kata dia, anak usaha Pertamina itu saat ini tengahmelakukan upaya pencegahan. Salah satunya dengan teknik pengeboran miring.
Namun, upaya tersebut mengakibatkan anjungan lepas pantai yang ada di YYA Blok ONWJ yang dioperatori Pertamina Hulu Energi (PHE) mengalami kemiringan, saat ini kemiringannya sudah mencapai 8 drajat.
"Sekarang sedang diupayakan dilakukan bor miring untuk menutup kebocoran gas blow out. Risikonya anjungan miring 8 drajat miringnya," tutur Djoko.
Menurut Djoko, Kementerian ESDM dan Pertamina sudah menurunkan tim untuk mengatasi gelembung gas tersebut, upaya tahap awal adalah menyelamatkan pekerja untuk menghindari korban jiwa, kemudian berikutnya adalah mengantisipasi kerusakan lingkungan.
"Tim kami sedang berada di lokasi sejak hari kejadian kan Jumat (12 Juli 2019), kami sudah mengirim ke sana. Masih di Pertamina crisis center," kata dia.
Sumur YYA-1 merupakan sumur reaktifasi di sekitar 2 Kilo Meter (KM) dari Pantai Utara Jawa, di daerah Karawang, Provinsi Jawa Barat. Gelembung gas muncul sejak Jumat (12/7/2019), dalam proses mengeboran untuk mengaktifkan kembali sumur YYA-1 untuk diproduksi kandungan minyak dan gasnya (migas). (Inilah.com)
Editor : Bsafaat


