Intan Gemah Purwanti, Pahlawan Perdamaian dari Cimahi, Berantas Bullying hingga Pelosok Negeri
Di tengah momentum Hari Guru Nasional, sorotan tertuju pada sosok Intan Gemah Purwanti, Koordinator Bimbingan Konseling (BK) SMKN 3 Kota Cimahi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi – Di tengah momentum Hari Guru Nasional, sorotan tertuju pada sosok intan gemah purwanti, Koordinator Bimbingan Konseling (BK) SMKN 3 Kota Cimahi.
Lebih dari sekadar guru BK, Intan adalah pejuang perdamaian yang mendedikasikan dirinya untuk memberantas bullying dan menanamkan nilai-nilai luhur di kalangan generasi muda, dari Sabang hingga Merauke.
Di era Generasi Z dan Alfa yang rentan terhadap isu mental health dan kekerasan, kehadiran Intan menjadi oase. Sejak 2017, ia aktif sebagai trainer di Yayasan Peace Generation, sebuah NGO yang fokus pada pendidikan perdamaian.
"Awalnya ikut training sertifikasi, lalu keterusan jadi trainer," ungkap Intan, Rabu 26 November 2025.
Selama delapan tahun terakhir, Intan tak hanya menyebarkan materi perdamaian, tetapi juga berkeliling ke berbagai daerah, membawa misi antikekerasan. Medan hingga Makassar menjadi saksi bisu kegigihannya.
Di SMKN 3 Cimahi, Intan memastikan materi tentang bullying dan nilai-nilai perdamaian menjadi kurikulum wajib. Langkah ini adalah upaya nyata untuk meminimalisir perundungan di lingkungan sekolah.
Yayasan Peace Generation menggunakan metode Experiential Learning atau metode berbasis pengalaman yang disebut ARKA (Aktivitas, Refleksi, Konsep, dan Aplikasi).
"Peserta diajak merasakan menjadi korban atau pembuli, sebelum belajar tentang konsep bullying," jelas Intan.
Setelah berefleksi dari pengalaman, peserta diajak memahami konsep bullying lebih lanjut, disangkutkan dengan fakta dan data. Barulah kemudian, mereka diajak mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bersama timnya, Intan pernah berkeliling ke tujuh kota, termasuk Depok, Malang, Medan, Makassar, dan Goa, dalam kerjasama dengan Dirjen Vokasi dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Mereka menyebarkan materi antikekerasan kepada 50 guru dan 50 siswa di setiap kota.
Namun, mengarungi keragaman Indonesia bukan tanpa tantangan. Intan mengakui bahwa setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda.
"Di Medan, siswa cenderung lebih impulsif, sehingga materi harus disesuaikan," ujarnya.
Selain bullying, modul Peace Generation juga mencakup materi lain yang krusial bagi pengembangan diri siswa, seperti manajemen konflik dan self-love.
"Mereka diajak untuk lebih mengenal dan mencintai diri sendiri, serta menjauhi prasangka," jelasnya.
NGO yang didirikan oleh Irvan Amali (Indonesia) dan Eric Lincoln (Amerika) ini berkantor pusat di Bandung. Meskipun bersifat part-time, Intan dan 60-70 trainer lainnya berkontribusi besar dalam menciptakan sekolah damai. Mereka juga membuat berbagai board game tentang kebencanaan, lingkungan, perdamaian, hingga games tentang sekolah damai untuk guru.
Menjelang Hari Guru, Intan berharap agar bukan hanya siswa yang belajar tentang bullying, tetapi juga para guru.
"Jangan sampai guru malah membuli siswa karena ketidaktahuan," harapnya.
Intan berencana memberikan pelatihan tentang bullying kepada rekan-rekan guru di SMKN 3 Cimahi tahun depan, menggunakan metode ARKA yang interaktif dan menyenangkan.
"Metode ARKA diharapkan membuat siswa lebih menyenangi pelajaran, karena anak-anak sekarang bosan dengan metode ceramah," pungkasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti


