Jadi Feeder BRT Bandung Raya, Pemprov Jabar Siap Sokong Angkot Listrik

Angkutan Kota (Angkot) berbasis listrik, diproyeksikan menjadi feeder transportasi massal Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.

Jadi Feeder BRT Bandung Raya, Pemprov Jabar Siap Sokong Angkot Listrik
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Angkutan Kota (Angkot) berbasis listrik, diproyeksikan menjadi feeder transportasi massal Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.

Di mana kelak, angkot listrik beroperasi di kawasan Bandung Raya seperti Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan wilayah Jatinangor, Sumedang menyokong BRT.

Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Jawa Barat, Tata Bina Udin menuturkan, sementara saat ini angkot listrik telah beroperasi di Kota Bandung dan akan disusul kabupaten/kota lainnya.

angkot listrik ini sambung Tata Bina merupakan langkah bersama untuk bertransisi sekaligus peremajaan angkutan.

"Untuk peralihan dari angkot yang sekarang. Untuk peremajaannya memang diarahkan ke listrik," ujar Tata Bina saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Senin (6/7/2026).

Dalam pengadaan armada angkot listrik tersebut, pihaknya akan patungan bersama pemerintah kabupaten/kota Bandung Raya.

"Sama-sama. Jadi kan programnya Bandung Raya. Bukan per kota. Jadi, nanti masing-masing kabupaten berkontribusi untuk proyek ini. Nanti ada semacam skema kerja sama untuk besarannya, kabupaten/kota berapa, provinsi berapa," ucapnya.

Kebutuhan armada dan anggaran kata Tata Bina, saat ini masih dikaji. Namun yang pasti, akan menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan fiskal masing-masing kabupaten/kota.

"Ini masih masih dikaji juga besaran tersebut, kan tergantung dengan kemampuan masing-masing daerah gitu," katanya.

Sebelumnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan, pihaknya bersama Pemprov Jabar dan Kementerian Perhubungan tengah menyusun skema pembiayaan angkot listrik tersebut.

“Prinsipnya harus ada kerja sama antara pemerintah kota, provinsi dan pusat. Karena kalau tidak, pengadaan armada akan terlalu berat jika ditanggung sendiri,” ucapnya.

Di lapangan sambung dia, operasional angkot pintar tetap dijalankan koperasi angkutan kota seperti Kobutri, Kopamas dan Kobanter yang selama ini menjadi bagian penting dari sistem transportasi di Kota Bandung.

Selain itu, pemerintah juga masih mengkaji rencana konsolidasi kepemilikan angkot yang dinilai cukup kompleks karena melibatkan banyak pemilik kendaraan dengan kondisi usaha yang berbeda-beda.

Farhan menyampaikan, transformasi tersebut tidak hanya sebatas mengganti armada lama. Namun juga membangun sistem transportasi publik yang lebih terstruktur, dan berkelanjutan.

“Ini bukan sekadar penggantian kendaraan, tapi perbaikan sistem. Karena itu model bisnisnya harus benar-benar dipastikan bisa berjalan. Kami berharap dengan adanya skema pembiayaan yang lebih terkoordinasi, transformasi menuju transportasi publik berbasis listrik dapat terus berlanjut tanpa membebani operator di lapangan," ujar dia.

Diketahui, Kota Bandung memiliki inovasi transportasi publik berupa angkutan kota listrik bernama angkutan kota listrik Bandung (Angklung). Kendaraan itu, sedang diuji coba pada rute Gunung Batu - Stasiun Bandung sebagai langkah awal menuju transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Dengan kapasitas hingga 14 penumpang, angkot pintar tersebut menawarkan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman dan modern. Fasilitas yang tersedia meliputi AC, akses WiFi, layar LCD TV dan kamera belakang yang membantu meningkatkan keamanan selama perjalanan.***


Editor : JakaPermana