Januari-Agustus 2026, Damkar Bandung Barat Tangani 1.124 Kejadian
Selama 7 bulan Damkar KBB mencatat sebanyak 1.124 kejadian kebakaran dan rescue di berbagai wilayah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Dinas Pemadam kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Bandung Barat (KBB) merilis data statistik kinerja dan kejadian selama periode Januari hingga Agustus 2026.
Dalam kurun 8 bulan tersebut, pihaknya mencatat total 1.124 panggilan darurat yang terdiri dari 210 kasus kebakaran dan 914 kasus penyelamatan di berbagai wilayah kecamatan.
Kepala Damkar KBB, Siti Anshoriah menjelaskan, angka kebakaran tercatat fluktuatif namun melonjak drastis pada pertengahan tahun, yakni Januari 9 kejadian, Februari 7, Maret 17, April 8, Mei 9, Juni 20, Juli 73, dan Agustus 67 kejadian.
"Lonjakan paling mencolok terlihat jelas pada Juli dan Agustu," kata Siti, Kamis (17/9/2026).
Hanya dalam dua bulan itu, lanjut Siti, tercatat 140 kejadian kebakaran atau setara dengan sekitar dua pertiga dari total kejadian sepanjang Januari-Agustus.
“Data ini menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan personel dan pelayanan kepada masyarakat," ungkapnya.
"Kecepatan respons sangat penting dalam setiap kejadian, terutama kebakaran yang dapat berkembang dengan cepat,” sambungnya.
Di sisi lain, beban kerja petugas juga didominasi oleh tugas penyelamatan yang jumlahnya jauh lebih besar, yakni 914 kejadian. Puncak aktivitas penyelamatan tercatat pada Agustus (123 kasus), Juli (103), April (133), Maret (125), dan Mei (120).
Sebaran kejadian menurut wilayah juga telah dipetakan untuk peningkatan strategi pencegahan:
Peta Wilayah Rawan kebakaran:
• Cipatat: 30 kejadian (tertinggi)
• Padalarang: 27 kejadian
• Lembang: 25 kejadian
• Ngamprah: 18 kejadian
• Cihampelas & Cikalongwetan: Masing-masing 17 kejadian
Peta Wilayah Rawan Penyelamatan:
• Padalarang: 172 kejadian (tertinggi)
• Ngamprah: 146 kejadian
• Parongpong: 117 kejadian
• Lembang: 85 kejadian
• Cipatat: 63 kejadian
"Data juga mencatat dampak kemanusiaan yang cukup memprihatinkan, tercatat 82 korban jiwa dan 23 korban luka di seluruh kejadian selama 8 bulan tersebut," ungkapnya.
"Angka korban jiwa didominasi oleh Kecamatan Parongpong sebanyak 80 orang, sementara korban luka di wilayah itu tercatat 9 orang," sambungnya.
Siti mengakui peran masyarakat menjadi kunci utama meredam risiko. Kewaspadaan terhadap sumber api, pemeriksaan instalasi listrik, serta kecepatan melapor menjadi fondasi keselamatan bersama.
“Yang paling penting, pencegahan dan kewaspadaan masyarakat. Ketika terjadi kondisi darurat, segera laporkan kepada petugas agar penanganan bisa dilakukan secepat mungkin,” ujarnya.
Editor : Ahmad Sayuti

