Jelang 100 Hari, Farhan Siapkan Program Tanggulangi PHK dan Sampah

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkap, dua isu utama yang menjadi perhatian warga menjelang 100 hari masa jabatannya. Kedua isu itu adalah pengelolaan sampah, dan peningkatan angka pemutusan hubungan kerja (PHK).

Jelang 100 Hari, Farhan Siapkan Program Tanggulangi PHK dan Sampah

INILAHKORAN, Bandung - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkap, dua isu utama yang menjadi perhatian warga menjelang 100 hari masa jabatannya. Kedua isu itu adalah pengelolaan sampah, dan peningkatan angka pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Kita kemarin sudah melakukan survei titik-titik yang perlu diperhatikan. Dan ternyata ada dua hal utama yang jadi sorotan warga yaitu sampah dan PHK. Dua hal ini sangat perlu dikejar penyelesaiannya," kata Farhan pada Jumat 16 Mei 2025.

Ia mengakui, bahwa gelombang PHK meningkat. Terutama di sektor pariwisata dan perhotelan yang menjadi tulang punggung ekonomi Bandung.

"Dari Februari sampai April, terutama selama bulan puasa banyak hotel yang melakukan efisiensi. Termasuk tidak memperpanjang kontrak pekerja harian. Diperkirakan ada tambahan 2.000 hingga 3.000 pekerja harian yang terdampak," ucapnya.

Sebagai langkah awal, Farhan menyatakan, akan menggelar rapat khusus dengan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung pada Senin 19 Mei mendatang untuk menyusun strategi penanganan.

"Minimal untuk sementara kita bisa lakukan sesuatu. Disnaker adalah satu-satunya dinas yang memiliki program padat karya yang bisa dimanfaatkan," ujar dia.

Di sisi lain, masalah pengelolaan sampah juga menjadi fokus utama. Ia menyebut, pembangunan fasilitas pengolahan sampah organik tengah dilakukan di Gedebage.

"Di sana tidak ada insinerator. Seratus persen penanganan sampah organik. Tapi proses pembangunan memang butuh waktu sekitar tiga bulan," jelasnya.

Sementara itu, dari 15 titik insinerator yang direncanakan. Baru tiga yang sudah operasional, yaitu dua di Ciwastra dan satu di Bandung Kulon.

"Yang lainnya masih dalam tahap konstruksi, sambil kita hitung dampak polusinya. Secara teknis tidak mungkin semuanya langsung jadi," ujar dia.

Ia juga menyebut refuse derived fuel (RDF) di Cicukang Holis dan Tegalega telah mencapai kapasitas penuh. Sedangkan Sarimukti masih dipertahankan pada volume tertentu.

Ketika ditanya soal pengembangan Legok Nangka sebagai alternatif, Farhan enggan berkomentar. "No comment," tegasnya.

Ia juga turut mengumumkan, rencana soal peluncuran program the new kang pisman dan buruan sae yang dijadwalkan akhir Mei. Strategi baru tersebut, akan lebih diintensifkan dalam pelatihan.

"Kita akan libatkan 412 RW yang sudah terbukti berhasil, dan jagoan-jagoan mereka akan jadi pelatih untuk RW lain," tandas dia. ***


Editor : Ahmad Sayuti