Jelaskan Hukum Kentut Saat Shalat, Buya Yahya: Jangan Tergesa Membatalkan karena Was-Was
Buya Yahya menyoroti persoalan kentut atau buang angin yang kerap menjadi masalah serius bagi umat Islam saat menjalankan ibadah shalat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Buya Yahya menyoroti persoalan kentut atau buang angin yang kerap menjadi masalah serius bagi umat Islam saat menjalankan ibadah shalat.
Menurutnya, kentut merupakan penyebab utama batalnya wudhu dan shalat, sehingga umat Islam yang mengalaminya wajib mengulang proses bersuci dan shalatnya.
Dalam salah satu kajian yang disiarkan melalui kanal YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya menjelaskan bahwa orang yang benar-benar mengeluarkan angin dari tubuh harus mengambil wudhu kembali. Namun, ia menekankan bahwa rasa ragu—apakah benar kentut atau hanya perasaan—tidak seharusnya membuat seseorang membatalkan shalat.
"Maka Nabi SAW mengajarkan, jika seseorang merasa seolah-olah kentut, maka jangan langsung dianggap itu benar," jelas Buya Yahya.
kentut memang membatalkan wudhu jika terjadi dengan pasti, karena adanya keluarnya angin dari dubur. Namun, saat seseorang hanya merasa ragu, ia dianjurkan untuk tidak menghentikan shalatnya begitu saja.
Hadis yang diriwayatkan dari Ali bin Thalq Radhiyallahu 'Anhu menyebutkan: “Barang siapa di antara kalian kentut dalam shalat, maka hendaklah ia membatalkan shalatnya, berwudhu, dan mengulang shalatnya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)
Namun, Buya Yahya mengingatkan bahwa tidak semua perasaan kentut harus dianggap sebagai kejadian nyata. Ia menyebut bahwa rasa ragu tersebut bisa berasal dari was-was atau gangguan setan yang bertujuan mengganggu kekhusyukan ibadah.
“Itu bentuk godaan dari setan,” tegas Buya Yahya. Ia pun menganjurkan agar umat Islam tidak mudah terpengaruh oleh rasa ragu dan terus melanjutkan shalat jika tidak ada tanda-tanda jelas telah kentut.
Dengan begitu, Buya mengajak umat Muslim untuk bersikap tenang dan tidak terburu-buru membatalkan shalat hanya karena perasaan tidak pasti. Kesadaran dan keteguhan dalam menghadapi was-was menjadi bagian penting dalam menjaga kekhusyukan ibadah.
Editor : Firda Rachmawati

