KBB Ekspor 20,4 Ton Kopi ke Empat Negara: Java Halu Harapan Baru
Kabupaten Bandung Barat mengekspor produk unggulan daerah berupa kopi Java Halu sebanyak 20,4 ton ke empat negara yaitu Inggris, Jepang, Australia dan Vietnam.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Ekspor kopi produk unggulan asal Kecamatan Gununghalu ke empat negara itu sebagai upaya memperluas pasar komoditas unggulan hasil petani di daerah itu.
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail saat pelepasan ekspor di Bandung Barat, Selasa (21/7), mengatakan ekspor tersebut menjadi bukti kopi asal Bandung Barat semakin mendapat pengakuan di pasar internasional melalui dukungan pendampingan kepada petani.
“Kami telah melaksanakan pelepasan ekspor kopi Java Halu ke empat negara. Ini sebuah kebanggaan buat Kabupaten Bandung Barat karena punya kopi yang sudah diakui oleh negara-negara di luar sana,” katanya.
Ia menjelaskan sebanyak 20,4 ton kopi diekspor dalam empat varian, yakni Natural ICA untuk Inggris, Double Wash ke Jepang, Black Honey ke Australia, dan Ranum Luwak ke Vietnam yang telah disesuaikan dengan karakter dan preferensi konsumen di masing-masing negara tujuan.
Jeje mengatakan peningkatan volume ekspor merupakan hasil dari pendampingan kepada petani serta perluasan akses pasar yang dilakukan pemerintah daerah bersama para pelaku usaha sehingga diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.
“Total semua yang diekspor 20,4 ton, ini semakin meningkat tentunya berkat pendampingan dan juga pemberian akses pasar. Ini akan meningkatkan petani-petani kopi yang ada di Bandung Barat,” ujarnya.
Sementara itu, Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bandung Barat mencatat daerah tersebut memiliki sekitar 3.383 hektare lahan kopi yang terdiri atas sekitar 2.810 hektare kopi arabika dan 573 hektare kopi robusta.
Komoditas itu dikelola oleh sekitar 4.900 petani yang tersebar di sembilan kecamatan, dengan Gununghalu menjadi salah satu sentra produksi utama.
Pada kesempatan tersebut, eksportir Java Halu Rani Mayasari mengatakan ekspor kali ini menjadi capaian terbesar selama hampir tujuh tahun, termasuk keberhasilan menembus pasar Vietnam yang menerapkan regulasi impor kopi lebih ketat.
“Satu terobosan terbesar selama hampir tujuh tahun. Kami bisa menembus pasar yang paling sulit yaitu Vietnam. Kami harus mampu lolos 46 parameter cemaran residu kimia dan pestisida,” katanya.
Dirinya menambahkan keberhasilan tersebut didukung pendampingan dari perguruan tinggi, dinas terkait, dan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dalam menerapkan mitigasi risiko kontaminasi sehingga kopi Java Halu memenuhi persyaratan ekspor ke Vietnam.
Perjalanan Panjang Java Halu merupakan satu dari sejumlah merek kopi di Jawa Barat yang berhasil menembus pasar dunia. Java Halu didirikan pada 2014 dan berhasil membangun reputasi melalui ketelitian ilmiah di sepanjang proses produksi.
Java Halu telah lebih dulu membuktikan kualitasnya dengan lolos dari uji laboratorium residu dan pestisida Jepang yang terkenal sangat rigid. Titik balik performa global mereka semakin menguat di 2024, saat Java Halu meraih peringkat ke-5 dalam Southeast Asian Green Coffee Competition.
Prestasi ini menarik perhatian para pembeli internasional, termasuk dari Vietnam, yang terpikat oleh keunikan Arabika hasil proses milik Java Halu.
Java Halu mampu memberdayakan petani-petani lokal di dataran tinggi Gunung Halu pada ketinggian 1.350–1.600 mdpl. Java Halu Coffee saat ini mengelola 60 hektare perkebunan dan memberdayakan 160 petani lokal.
Dengan kapasitas produksi mencapai 100 ton green beans per tahun, kehadiran Java Halu terbukti menjadi motor penggerak ekonomi sirkular di wilayahnya. Selain keunggulan rasa, nilai jual utama Java Halu di pasar Eropa dan Australia adalah komitmennya terhadap lingkungan. (bsf)
Editor : Inilahkoran

