Keanggotaan Penuh Indonesia di BRICS: Peluang dan Tantangan dalam Membangun Legitimasi Global
Guru Besar Ilmu Politik dan dosen hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Gonda Yumitro berkomentar terkait keanggotaan Indonesia di BRICS.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN,Bandung – Guru Besar Ilmu Politik dan dosen hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Gonda Yumitro berkomentar terkait keanggotaan Indonesia di BRICS.
Menurutnya keanggotaan penuh Indonesia di BRICS tidak hanya memperkuat legitimasi pemerintah di hadapan rakyat, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam politik Global.
“Pencapaian ini dapat mendorong rasa percaya diri nasional, dan memperkuat dukungan terhadap arah kebijakan luar negeri yang lebih dinamis dan berorientasi pada kepentingan strategis jangka panjang,” ucap Gonda Yumitro dikutip dari ANTARA.
Ia menekankan bahwa keanggotaan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan lebih besar dalam isu-isu pembangunan Global.
Menurutnya, keanggotaan penuh di BRICS memberikan Indonesia kesempatan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan yang dapat memengaruhi tata kelola Global, termasuk reformasi lembaga multilateral, ketahanan energi, dan perubahan iklim.
“BRICS, yang merepresentasikan kepentingan Selatan Global, memberikan ruang bagi Indonesia untuk memimpin narasi inklusivitas dan keadilan dalam pembangunan Internasional,” ujarnya.
Prof. Gonda juga menggarisbawahi bahwa BRICS menawarkan platform untuk memperluas jaringan perdagangan dan membantu diversifikasi mitra ekonomi, sehingga mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa.
“Dengan memanfaatkan momentum ini, Indonesia dapat mendorong kerja sama di bidang infrastruktur, energi terbarukan, dan ekonomi digital, yang selaras dengan agenda pembangunan nasional,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga keseimbangan terhadap pengaruh dominan negara besar seperti China dan India.
“Indonesia perlu memosisikan diri sebagai jembatan dialog yang mempromosikan kerja sama, bukan konfrontasi, agar menjaga stabilitas hubungan Internasional,” kata Gonda.
Dia juga menekankan pentingnya sikap Indonesia yang teguh pada prinsip politik luar negeri bebas aktif, serta menghindari jebakan blok politik yang dapat mengurangi fleksibilitas diplomatik.
“Komitmen terhadap kerja sama regional seperti ASEAN harus tetap menjadi prioritas Indonesia, sehingga keanggotaan penuh di BRICS tidak boleh mengurangi keterlibatan aktif yang telah terjalin sebelumnya,” tambahnya.
Prof. Gonda menutup pernyataannya dengan menyerukan agar Pemerintah Indonesia memastikan bahwa keanggotaan penuh di BRICS tidak hanya bersifat simbolis.
“Langkah konkret perlu diambil untuk menyusun agenda strategis nasional yang memanfaatkan peluang di BRICS guna mendukung pembangunan berkelanjutan dan inklusif,” katanya.
Ia juga menekankan perlunya melibatkan pemangku kepentingan lainnya, termasuk swasta, masyarakat sipil, dan akademisi, agar manfaat keanggotaan penuh di BRICS dapat dirasakan oleh rakyat, serta memperkuat kemandirian bangsa dalam menghadapi tantangan Global yang semakin kompleks.***
Editor : Yosep Saepul Ramadan


