Kemarau Picu Krisis Ganda: Air Langka Api Menyala

KEMARAU baru separuh jalan. Krisis air bersih justru mulai meluas di berbagai daerah.

Kemarau Picu Krisis Ganda: Air Langka Api Menyala
BANTUAN AIR: Warga tampak mengambil air dari sebuah bak penampungan berisi bantuan air bersih yang didistribusikan petugas BPBD Sukoharjo.

Oleh: Yuliantono

Kemarau belum mencapai puncaknya. Namun, di banyak sudut Jawa Barat, warga sudah lebih dulu akrab dengan jeriken, ember, dan antrean air bersih. Di sejumlah desa, sumur mulai mengering. Mata air mengecil. Keran yang biasanya mengalir sepanjang hari kini hanya sesekali menetes. 

Bagi ribuan keluarga, air tak lagi sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan sesuatu yang harus ditunggu kedatangannya. Musim kemarau baru memasuki pertengahan. Tetapi jejaknya sudah terasa di hampir seluruh penjuru provinsi.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat hingga Minggu (26/7) mencatat sebanyak 197.732 jiwa dari 60.365 kepala keluarga telah terdampak kekeringan. Mereka tersebar di 184 desa atau kelurahan, 87 kecamatan, pada 15 kabupaten dan kota.

Kabupaten Bogor menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbesar. Sebanyak 99.833 jiwa di 77 desa dari 24 kecamatan mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Disusul Kabupaten Bekasi dengan 26.995 jiwa yang tersebar di 18 desa pada sembilan kecamatan.

Di balik angka-angka itu, ribuan keluarga kini menggantungkan kebutuhan air pada mobil tangki yang datang bergiliran.

Sedikit demi sedikit, air bersih didistribusikan ke wilayah-wilayah terdampak. Hingga kini, sekitar 3,9 juta liter air telah disalurkan oleh pemerintah kabupaten dan kota.

"Secara umum, masih ditangani oleh BPBD kabupaten/kota. Mereka masih bisa meng-handle pendistribusian air," ujar Pranata Humas Ahli BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat.

Namun, pekerjaan belum selesai. Justru tantangan yang lebih berat diperkirakan baru akan datang.

BPBD memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus, bahkan berpotensi berlangsung lebih lama hingga September.

"Diprediksinya malah akan lebih panjang. Data sementara, sampai September," kata Hadi.

Bayang-bayang kemarau panjang itu mengingatkan pada 2023, ketika distribusi air bersih mencapai 33 juta liter hingga November dan hampir seluruh wilayah Jawa Barat ikut merasakan dampaknya.

Meski belum bisa memastikan apakah tahun ini akan separah tiga tahun lalu, BPBD memilih bersiap lebih awal.

"Kalau 2023 itu sampai November. Sampai November itu sudah 33 juta liter air yang didistribusikan. Yang terdampaknya 25 kabupaten/kota," ujarnya.

Pemantauan kini dilakukan di seluruh 27 kabupaten dan kota. Bantuan pun mulai digerakkan ke daerah yang membutuhkan.

"Sekarang sebenarnya kita sudah supporting. Ke Purwakarta dan Cianjur untuk pengiriman mobil tangki, masing-masing satu unit. Kalau yang lain mungkin armadanya masih tercukupi. Tapi kalau perlu dukungan, kita siap," tegas Hadi.

Kemarau tidak hanya mengeringkan sumur, tapi juga membuat rerumputan, semak, dan lahan semakin mudah terbakar. Sejak awal Juli, laporan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus bertambah.

Hingga Minggu (26/7), BPBD Jawa Barat mencatat 46 kejadian karhutla di 14 kabupaten dengan luas lahan terdampak sekitar 53 hektare.

Api muncul di berbagai daerah, mulai dari Sumedang, Cirebon, Kabupaten Bandung, Sukabumi, Purwakarta, Subang hingga Kota Bandung. Hadi mengingatkan, sebagian besar kebakaran sebenarnya dapat dicegah dari kebiasaan sehari-hari.

"Kita juga berharap masyarakat menjaga kondisi kondusif terkait pemanfaatan lahan. Sekarang ini sudah mulai terjadi di beberapa wilayah kebakaran lahan," ujarnya.

Dia meminta masyarakat tidak membakar sampah di lahan terbuka karena api dapat dengan cepat menjalar ketika vegetasi mengering.

"Sehingga perlu diantisipasi, misalnya jangan membakar sampah di lahan-lahan terbuka. Itu juga penting menghindari kebakaran di lahan-lahan yang terbuka yang berdekatan dengan lahan masyarakat," katanya.

Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga kebersihan lingkungan dan segera melapor apabila menemukan titik api maupun wilayah yang mulai mengalami kekeringan.

"Kalau memang terjadi, masyarakat bisa melaporkan ke BPBD setempat untuk kita lakukan respons cepat terkait kejadian, baik kekeringan ataupun kebakaran hutan dan lahan," tandasnya.

Di Kabupaten Bekasi, kemarau menghadirkan cerita yang sama. Tiga mobil tangki air bersih memasuki permukiman di Kecamatan Cibarusah, Serang Baru, dan Bojongmangu. Warga berdatangan membawa jeriken, ember, hingga galon untuk menampung air yang menjadi kebutuhan paling berharga di musim ini.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Putih Sari mengatakan, krisis air bersih tidak boleh dipandang sekadar persoalan kekurangan pasokan. Menurutnya, air merupakan kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat. 

"Musim kemarau yang panjang ini membuat masyarakat sulit mendapatkan air bersih," katanya.

Dia berharap distribusi air bersih dapat meringankan beban warga untuk sementara waktu. Namun, solusi jangka panjang tetap dibutuhkan melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan dan penyediaan sumber air yang lebih berkelanjutan.

Berharap Air Bersih

Kemarau panjang mulai menguji ketahanan warga Cianjur dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Ketika sumber air perlahan menyusut, bantuan distribusi air menjadi harapan bagi ribuan keluarga yang terdampak.

Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cianjur bergerak mendistribusikan 20 ribu liter air bersih ke Kecamatan Cibeber untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1.500 kepala keluarga yang terdampak kemarau. Selain membawa air, para relawan juga membawa pesan penting agar masyarakat lebih bijak menggunakan sumber daya yang semakin terbatas.

Kepala Markas PMI Cianjur Ajang Fajar Aciana mengatakan, distribusi air dilakukan sejak pagi hingga malam hari dengan menyasar sejumlah titik penampungan yang telah disiapkan warga, salah satunya di Desa Cibaregbeg.

Permintaan air bersih terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. PMI pun memastikan distribusi akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan masyarakat, terutama ke wilayah yang masih dapat dijangkau kendaraan tangki.

"Tercatat sampai saat ini sekitar enam kecamatan yang sudah dilayani truk tangki air bersih, dimana total air yang sudah didistribusikan sebanyak 70 ribu liter berasal dari Perumdam Cianjur," katanya, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (26/7).

Namun, tidak semua permintaan dapat langsung dipenuhi. Kondisi geografis dan akses jalan menjadi tantangan tersendiri bagi kendaraan tangki berukuran besar.

Ajang menjelaskan, sejumlah wilayah memiliki medan yang sulit dilalui truk tangki. Karena itu, PMI berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Perumdam Cianjur untuk mencari solusi lain, seperti pembangunan sumur bor maupun pemasangan jaringan pipanisasi.

Wilayah yang masih dapat dijangkau kendaraan tangki akan terus dilayani secara bergiliran. Dalam sehari hingga malam, PMI mampu menyalurkan hingga 20 ribu liter air bersih dengan dukungan empat orang relawan.

Tidak hanya mengantarkan air, relawan PMI juga mengedukasi warga agar mampu mengelola persediaan air selama musim kemarau.

"Sambil mendistribusikan air bersih ke titik yang membutuhkan, relawan PMI melakukan promosi kebersihan dan sosialisasi bijak menggunakan air selama musim kemarau," katanya.

Masyarakat diimbau menggunakan air seperlunya untuk kebutuhan rumah tangga, menyimpan air dalam wadah tertutup, menempatkan tempat penyimpanan di lokasi teduh, serta menjauhkan bak penampungan dari sampah agar kualitas air tetap terjaga.

Sementara itu, Perumdam Tirta Mukti Kabupaten Cianjur memastikan pelayanan air bersih bagi sekitar 50 ribu pelanggan tetap berjalan meski sejumlah sumber air mengalami penurunan debit, terutama sumber air permukaan.

Direktur Utama Perumdam Tirta Mukti Cianjur Syamsul Hadi mengatakan, beberapa wilayah yang mengandalkan sumber air permukaan mulai mengalami penurunan pasokan. Meski begitu, distribusi air ke pelanggan di Kecamatan Pacet, Karangtengah, Cilaku, Ciranjang, dan Sindangbarang tetap berjalan.

Hanya saja, debit air yang diterima sebagian pelanggan tidak maksimal. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari menggeser titik pompa ke lokasi dengan sumber air yang lebih besar hingga memperkuat distribusi menggunakan tiga unit truk tangki.

"Sejak satu pekan terakhir wilayah yang mengandalkan sumber air permukaan mengalami pengurangan debit air, sehingga pendistribusian ke rumah pelanggan tidak maksimal, kami terus berupaya melakukan perbaikan agar debit air tetap normal," katanya.

Berbeda dengan wilayah yang bergantung pada sumber air permukaan, pasokan dari mata air Cirumput masih berjalan normal. Tidak ada laporan penurunan debit yang berarti dari pelanggan di wilayah Cianjur, Warungkondang, serta sebagian Cilaku.

Perbaikan kebocoran pipa induk di sejumlah titik juga terus dilakukan agar pelayanan di wilayah perkotaan tetap berjalan tanpa gangguan.

Bagi pelanggan yang mengalami penurunan debit air, Perumdam langsung melakukan pengiriman melalui truk tangki agar kebutuhan air tetap terpenuhi setiap hari.

"Pelayanan prima terus dilakukan termasuk ketika mendapat laporan dari pelanggan segera ditindaklanjuti petugas agar pasokan air ke rumah pelanggan kembali normal dan maksimal," katanya.

Selain melayani pelanggan tetap, Perumdam Tirta Mukti juga ikut membantu masyarakat terdampak kemarau. Selama satu pekan terakhir, lebih dari 250 ribu liter air bersih telah disalurkan ke 13 kecamatan yang mengalami kesulitan air.

"Kami bekerjasama dengan BPBD Cianjur, PMI Cianjur, dan instansi terkait lainnya guna mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak kemarau mulai dari utara hingga selatan selama dapat dilalui kendaraan besar," katanya. (gin)


Editor : Inilahkoran