Ketika Gema Juara Spanyol Menembus Sunyi Gaza
FINAL Piala Dunia 2026 tidak hanya meninggalkan catatan sejarah bagi Spanyol. Bagi warga Gaza, kemenangan La Roja membawa pesan tentang harapan dan solidaritas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Numan Abdullah mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di Stadion New York-New Jersey. Namun, malam final Piala Dunia 2026, dia merasakan atmosfer yang sama dengan jutaan pendukung sepak bola di dunia.
Dari Gaza, Numan menyaksikan Spanyol menaklukkan Argentina, sambil membawa harapan kecil bahwa sebuah kemenangan bisa menjadi pengingat bahwa solidaritas masih ada.
Ketika Ferran Torres mencetak gol pada menit ke-106 babak perpanjangan waktu, memastikan La Roja menang 1-0 atas Argentina, sorak kegembiraan tidak hanya terdengar dari tribun stadion.
Gaza ikut bersuara. Di sejumlah tempat, warga berkumpul menyaksikan pertandingan melalui layar sederhana. Mereka bukan hanya menikmati drama sepak bola, tetapi juga memberikan dukungan kepada Spanyol yang selama ini mereka nilai memiliki kedekatan dengan perjuangan Palestina.
"Kami datang bersama untuk mendukung Spanyol karena negara itu telah berdiri bersama rakyat Palestina selama bertahun-tahun," ujar Numan Abdullah seperti dikutip media internasional.
Bagi Numan dan sebagian warga Palestina, sepak bola menjadi ruang kecil untuk beristirahat dari kenyataan hidup yang berat. Selama 90 menit lebih pertandingan berlangsung, perhatian mereka beralih dari tekanan sehari-hari menuju sebuah permainan yang menghadirkan kegembiraan.
Kemenangan Spanyol menjadi jeda singkat. Sebuah momen ketika tawa dan sorak bisa kembali hadir, meski hanya sementara.
Dukungan terhadap Spanyol sebenarnya telah terlihat sejak fase awal Piala Dunia 2026. Sebagian penggemar sepak bola Palestina memilih La Roja bukan hanya karena kualitas permainan mereka, tetapi juga karena melihat sikap pemerintah Spanyol dan sejumlah figur publiknya sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina.
Bagi mereka, sepak bola tidak hanya tentang skor dan trofi. Ada nilai, simbol, dan cerita yang ikut bergerak bersama sebuah pertandingan.
Nama Lamine Yamal menjadi salah satu sosok yang mendapat perhatian. Pemain muda Spanyol tersebut sebelumnya menjadi sorotan setelah menunjukkan simbol dukungan terhadap Palestina dalam sebuah perayaan sepak bola di Spanyol.
Momen tersebut memperkuat hubungan emosional sebagian pendukung Palestina dengan tim nasional Spanyol.
Namun, bagi Spanyol sendiri, final Piala Dunia 2026 adalah tentang sejarah olahraga. La Roja datang dengan ambisi merebut kembali kejayaan sepak bola dunia dan menghadapi Argentina yang berstatus juara bertahan.
Pertandingan di Stadion New York-New Jersey berlangsung ketat. Spanyol tampil lebih dominan sejak awal dengan penguasaan bola yang membuat Argentina kesulitan mengembangkan permainan.
Lionel Messi dan rekan-rekannya bahkan tidak mampu menciptakan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang waktu normal.
Situasi Argentina semakin sulit setelah Enzo Fernandez mendapat kartu merah akibat pelanggaran keras terhadap Pau Cubarsi. Meski bermain dengan 10 pemain, Argentina masih mampu bertahan berkat penampilan luar biasa Emiliano Martinez.
Penjaga gawang Argentina itu mencatatkan 11 penyelamatan penting dan membuat laga harus berlanjut ke babak tambahan. Namun, tembok pertahanan Argentina akhirnya runtuh.
Pada menit ke-106, Ferran Torres menerima umpan matang Nico Williams dan melepaskan tembakan yang mengubah jalannya sejarah. Satu gol itu cukup membawa Spanyol menjadi juara dunia.
La Roja kembali mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah sebelumnya berjaya pada 2010.
Bagi Argentina, final tersebut menjadi malam yang berat. Lionel Messi, kapten yang membawa Argentina meraih gelar juara dunia sebelumnya, harus menerima kenyataan gagal mempertahankan mahkota sepak bola dunia.
Di usia 39 tahun, Messi tidak mampu menunjukkan pengaruh besar seperti pertandingan-pertandingan sebelumnya. Selama 120 menit, dia tidak mencatatkan sentuhan di dalam kotak penalti Spanyol.
Kekalahan itu juga memunculkan tanda tanya mengenai masa depan pelatih Argentina Lionel Scaloni. Setelah pertandingan, ia mengisyaratkan kemungkinan meninggalkan kursi pelatih Albiceleste.
"Tempat ini luar biasa. Ini adalah segala yang pernah saya impikan. Saya akan bertahan hingga Desember, dan setelah itu akan sangat sulit. Kemungkinan besar saya akan mundur," ujar Scaloni seperti dikutip dari Sportskeeda.
Sementara Argentina pulang membawa luka, Spanyol merayakan pesta. Di berbagai penjuru dunia, suporter La Roja turun ke jalan merayakan keberhasilan tim kesayangan mereka. Di Times Square, New York, ribuan pendukung Spanyol memadati kawasan tersebut untuk merayakan gelar dunia.
Dukungan terhadap Spanyol tidak hanya muncul dari Gaza. Di sejumlah komunitas Palestina di luar negeri, termasuk kawasan Brooklyn, New York, sebagian warga memilih mendukung La Roja pada laga final sebagai bentuk solidaritas.
Bagi mereka, Piala Dunia bukan hanya tentang pertandingan 11 lawan 11. Turnamen terbesar sepak bola dunia sering menjadi tempat bertemunya identitas, sejarah, dan perasaan manusia.
Final Piala Dunia 2026 akhirnya menjadi milik Spanyol. Trofi emas dibawa pulang ke Madrid, sementara Argentina harus menerima akhir dari perjalanan mempertahankan gelar.
Namun bagi Numan Abdullah dan sebagian warga Palestina, malam itu meninggalkan cerita yang berbeda. Kemenangan Spanyol tidak hanya dilihat sebagai keberhasilan sebuah tim sepak bola, tapi simbol dukungan dan solidaritas yang mereka rasakan dari kejauhan. (gin)
Editor : Inilahkoran

