Ketika Taman Menjadi Ruang Imajinasi Anak

DONGENG tak sekadar menjadi cerita. Di Taman Siliwangi, kisah-kisah itu menjadi ruang bagi anak untuk belajar dan mengenal nilai-nilai kehidupan.

Ketika Taman Menjadi Ruang Imajinasi Anak
RAMAH ANAK: Salah satu pengisi kegiatan “Mendengar Mendongeng” di Taman Siliwangi, Cibinong, Kabupaten Bogor, Minggu (13/9).Pemerintah Kabupaten Bogor, menghadirkan ruang publik ramah anak melalui kegiatan “Mendengar Mendongeng“.(Foto:ANTARA/HO-Humas Pemkab Bogor)

Cerita mengalir di ruang terbuka Taman Siliwangi, Cibinong, Minggu. Anak-anak duduk mendengarkan dongeng, sesekali tertawa, lalu mengikuti cerita dengan rasa ingin tahu. Di tempat itu, bermain dan belajar berjalan beriringan.

Suasana tersebut hadir melalui kegiatan “Mendengar Mendongeng” yang digelar Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Memasuki pertemuan kedua, kegiatan ini menghadirkan ruang publik yang ramah anak sekaligus menjadi tempat bagi anak untuk belajar, bermain, dan mengembangkan imajinasi.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Bogor Sussy Rahayu Agustini mengatakan mendongeng menjadi cara sederhana untuk menanamkan berbagai nilai positif kepada anak.

“Mendongeng adalah cara sederhana tetapi sangat efektif untuk menyampaikan nilai-nilai positif kepada anak,” kata Sussy, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (13/9).

Melalui cerita yang disampaikan secara menarik, anak-anak dapat mengenal banyak hal tanpa merasa sedang digurui. Nilai kejujuran, keberanian, persahabatan, kepedulian, tanggung jawab, hingga sikap saling menghargai dapat diperkenalkan melalui tokoh dan kisah yang dekat dengan dunia mereka.

Di Taman Siliwangi, pesan-pesan itu hadir bersama suasana bermain. Anak-anak tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi juga terlibat secara interaktif dalam kegiatan.

Bagi pemerintah daerah, ruang seperti itu penting karena anak membutuhkan tempat untuk tumbuh yang tidak hanya aman, tetapi juga menyenangkan. Ruang publik pun tidak berhenti sebagai tempat bermain, melainkan dapat menjadi ruang belajar dan berinteraksi.

Menariknya, kegiatan tersebut juga melibatkan Forum Anak Daerah Kabupaten Bogor. Pelibatan ini menjadi bagian dari upaya memberikan kesempatan kepada anak untuk ikut mengambil peran dalam pembangunan daerah.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga memiliki ruang untuk berpartisipasi dan menyampaikan gagasan,” ujar Sussy.

Menurutnya, suara anak perlu mendapat tempat dalam pembangunan. Sebab, kebijakan yang menyangkut anak akan lebih tepat jika turut mempertimbangkan kebutuhan dan perspektif mereka.

“Mendengar Mendongeng” pun menjadi salah satu langkah Pemkab Bogor dalam memperkuat pemenuhan hak sekaligus perlindungan khusus bagi anak. Upaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan mewujudkan Kabupaten Layak Anak.

Namun, pekerjaan itu tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Lingkungan yang ramah anak membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, dunia usaha, Forum Anak, dan berbagai unsur lainnya. (gin) 


Editor : Inilahkoran