Khofifah Tak Setuju Anak Nakal Dicap Sebagai 'Anak Bermasalah'
Khofifah tidak setuju dengan sebutan anak nakal terhadap anak yang bermasalah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap anak-anak yang selama ini kerap diberi label negatif. Ia menolak istilah "anak nakal" dan mendorong pendekatan yang lebih humanis dan edukatif dalam membentuk karakter generasi muda.
"Jangan mudah melabeli anak dengan istilah ‘nakal’. Nakal itu bisa berarti N—akal, yaitu akalnya yang belum terarah dan justru tidak terbatas. Semua anak terlahir dalam kondisi fitrah," ujar Khofifah.
Ia menilai bahwa pendidikan karakter harus menjadi bagian penting dari sistem pembelajaran, terutama melalui sekolah-sekolah berkonsep taruna yang telah dikembangkan di Jawa Timur. Sejumlah sekolah seperti SMA Taruna Nala, Taruna Angkasa, Taruna Brawijaya, Bhayangkara, hingga Madani menjadi contoh nyata integrasi nilai-nilai kedisiplinan, nasionalisme, dan kenusantaraan dalam dunia pendidikan.
Tak berhenti di situ, Pemprov Jatim juga tengah merancang pendirian SMA Taruna Pamong Praja di Bojonegoro yang akan bekerja sama dengan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), guna memperluas akses pendidikan karakter berbasis kepemimpinan dan pelayanan publik.
"Anak-anak dari sekolah taruna ini bisa menjadi corong nasionalisme dan kebangsaan di masa depan," tambahnya.
Dalam era digital saat ini, Khofifah juga menyoroti peran teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan, khususnya untuk mendukung tugas guru Bimbingan Konseling (BK). Ia menekankan bahwa guru BK harus mampu menjadi konselor berbasis AI yang dapat menganalisis karakter siswa secara cepat dan akurat.
"Analisis karakter bisa dilakukan dalam waktu kurang dari satu menit. Guru BK wajib menguasai alat ini agar pendekatan ke siswa lebih tepat sasaran," tegasnya.
Sebagai bagian dari pembinaan karakter dan disiplin, Khofifah juga mengusulkan agar proses pembaretan siswa SMA Taruna dilakukan serentak. Ia meyakini bahwa seremonial seperti itu akan memperkuat identitas, solidaritas, dan rasa kebangsaan siswa.
Ia menutup dengan pesan agar masyarakat dan pendidik berhenti membanding-bandingkan anak, serta percaya bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa yang bisa tumbuh dengan pendekatan yang tepat.
"Setiap anak itu istimewa. Jangan kita padamkan semangat mereka hanya karena cara pandang kita yang terbatas," ujarnya.
Editor : Firda Rachmawati


