Kritik Program Dedi Mulyadi, Wamendagri: Pendidikan Anak Bermasalah di Barak TNI Harus Libatkan Ahli
Bima Arya menanggapi soal program Dedi Mulyadi terkait pendidikan anak bermasalah di barak TNI.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, memberikan pandangannya terkait program pembinaan anak-anak bermasalah melalui pendidikan kedisiplinan di barak militer. Menurutnya, gagasan tersebut patut dikaji secara matang dan melibatkan para ahli dari berbagai bidang agar tidak menimbulkan dampak negatif.
"Ini harus dirancang dengan hati-hati, melibatkan pakar keluarga, psikolog, pemerhati anak, hingga pihak keluarga si anak itu sendiri," ujar Bima.
Ia menegaskan bahwa meski tujuan program tersebut adalah untuk mendidik dan menanamkan disiplin, pendekatannya tidak boleh hanya berfokus pada aspek militeristik. Perlu dipertimbangkan pula aspek psikologis dan perkembangan kepribadian anak.
"Proses pendidikan bukan hanya sekadar melatih disiplin. Ada unsur psikologis yang tak bisa diabaikan. Jadi, konsepnya harus betul-betul disiapkan secara holistik," tegasnya.
Bima mendorong agar pola pendidikan yang diterapkan mengedepankan pendekatan kekeluargaan dan interaksi yang sehat antara anak, pemerintah daerah, serta para pembina yang terlibat. Ia menilai, pengalaman pribadinya saat mengikuti retret kepala daerah di Akademi Militer membuktikan bahwa kedisiplinan dan rasa kekeluargaan bisa berjalan beriringan.
"Saat itu kami mendapatkan pelatihan yang membangun semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Tempatnya boleh saja barak, tapi pendekatannya harus mengandung unsur konseling dan pembinaan kepribadian," katanya.
Program pembinaan di barak militer ini merupakan inisiatif Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang ingin memberikan pendidikan kedisiplinan bagi link slot anak-anak yang dianggap bermasalah. Dedi menekankan bahwa peserta tetap memiliki status sebagai pelajar selama mengikuti program tersebut.
Wacana ini memicu diskusi publik, terutama soal pendekatan yang digunakan dalam mendidik anak. Bima Arya mengingatkan agar program tersebut tidak hanya berorientasi pada ketertiban, tetapi juga mampu membentuk karakter anak secara menyeluruh melalui pendekatan yang manusiawi dan berkelanjutan.
Editor : Bsafaat

