Lima Kecamatan di Cirebon Kekurangan Air Bersih
Pemerintah Kabupaten Cirebon mulai mengantisipasi dampak musim kemarau yang memicu berkurangnya pasokan air bersih di sejumlah wilayah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Cirebon- Pemerintah Kabupaten Cirebon mulai mengantisipasi dampak musim kemarau yang memicu berkurangnya pasokan air bersih di sejumlah wilayah.
Sedikitnya lima kecamatan kini mengalami kekurangan air bersih. Kecamatan tersebut yakni Greged, Sedong, Klangenan, Gempol, dan Kecamatan Mundu.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda mengaku sudah melakukan pemantauan di beberapa wilayah.
Tercatat, ada kondisi debit air yang mengalami penurunan. Kawasan tersebut yaitu situ patok yang berada di Kecamatan Mundu. Wilayah lainnya yaitu daerah Greged, Klangenan, Slangit, Walahar, hingga Cupang “Kami sudah memantau sejumlah wilayah. Terjadi penurunan debit air, terutama di Situ Patok, Kecamatan Mundu, serta kawasan Greged, Klangenan, Slangit, Walahar, dan Cupang,” kata Syamsul, Senin (27/7).
Ia menyebut, apabila dalam waktu dekat tidak turun hujan, cadangan air di Situ Patok diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua bulan lagi.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah telah menjalin kerja sama dengan PDAM dan pihak swasta dalam penyediaan pasokan air bersih bagi masyarakat.
“Jika hujan tidak segera turun, debit air di Situ Patok diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua bulan,” ucapnya.
Sejauh ini akunya, distribusi air bersih mulai difokuskan ke wilayah yang paling membutuhkan. Salah satunya di Desa Slangit, di mana pasokan air bersih sudah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masjid.
Sementara itu, di wilayah Winduhaji, sebagian warga telah mengalami kesulitan air bersih dan sebagian lainnya memanfaatkan pasokan air dari wilayah Sangkanurip, Kabupaten Cirebon.
Dalam menghadapi potensi kekeringan, pemerintah telah menyiapkan sarana dan prasarana pendukung berupa 10 unit tandon air terdiri dari empat tandon berkapasitas 100 liter dan enam tandon berkapasitas 2.000 liter.
Selain itu, disiagakan satu unit mobil tangki air berkapasitas 4.000 liter untuk mendistribusikan air ke wilayah terdampak.
“Kami telah menyiapkan 10 tandon air dan satu mobil tangki berkapasitas 4.000 liter untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan,” jelas Syamsul.
Syamsul menambahkan, puncak musim kemarau dan kekeringan akan terjadi pada akhir Agustus 2026. Meski demikian, kondisi di Kabupaten Cirebon secara umum dinilai belum terlalu parah.
(maman suharman)
Editor : Inilahkoran

