Lima Pabrik Batu Kapur Ditutup Permanen
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yuliantono
INILAH, Bandung - Asap cerobong pabrik batu kapur di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, perlahan berhenti mengepul. Aktivitas yang selama bertahun-tahun menjadi denyut ekonomi sebagian warga kini terhenti.
Di balik keputusan itu, tersimpan dua cerita yang berjalan beriringan: upaya menyelamatkan lingkungan dan ikhtiar menjaga nasib para pekerja.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan lima pabrik batu kapur di kawasan tersebut ditutup secara permanen. Keputusan itu diambil setelah pemerintah menemukan berbagai pelanggaran yang dinilai tidak lagi dapat ditoleransi.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan, penutupan tersebut merupakan keputusan final karena perusahaan dinilai melanggar berbagai ketentuan yang menjadi dasar evaluasi pemerintah.
“Sudah ditutup permanen karena itu sudah melanggar dari sisi apa pun,” kata Dedi di Kota Cimahi, Selasa (4/8).
Meski pintu-pintu pabrik telah ditutup, perhatian pemerintah kini beralih kepada mereka yang selama ini menggantungkan hidup dari industri kapur. Pemprov Jawa Barat mulai memetakan dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan, sekaligus menyiapkan program bantuan serta alih profesi bagi para pekerja.
Data sementara menunjukkan jumlah pekerja terdampak terus bertambah. Jika sebelumnya tercatat sekitar 508 orang, hasil pendataan terbaru memperkirakan angkanya mendekati 1.000 orang.
“Dan jumlah orang yang harus mendapat bantuan dan alih kerjanya ternyata bertambah dari 508 menjadi 1.000,” ujarnya.
Lonjakan jumlah tersebut, menurut Dedi, masih harus dipastikan. Ia tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang mengaku sebagai pekerja terdampak setelah mengetahui pemerintah menyiapkan program bantuan.
“Biasa kalau begitu dengar mau dapat bantuan langsung berubah jumlah,” katanya.
Karena itu, proses verifikasi kini dilakukan secara ketat. Pemerintah ingin memastikan bahwa bantuan benar-benar diterima oleh warga yang selama ini bekerja di sektor pertambangan maupun industri batu kapur di kawasan Cipatat.
“Tapi lagi kami lagi identifikasi agar mereka betul-betul mereka pekerja di sektor pertambangan maupun industri kapur yang ada di sana,” ujar Dedi. (gin)
Editor : Inilahkoran


