Mahfud MD Bilang Kampus Harus Jadi Oposisi Kritis dan Objektif, Bukan Fatalis atau Nihilis
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga demokrasi dengan bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga demokrasi dengan bersikap Kritis terhadap kebijakan pemerintah.
Menurutnya, Kampus tidak boleh hanya diam atau sekadar mencari-cari kesalahan, tetapi harus menjadi oposisi yang Objektif.
"Yang benar dikatakan benar, yang salah ya dikatakan salah. Itulah yang disebut apa namanya oposisi kritis, kritis dan objektif begitu," ujar Mahfud dikutip dari ANTARA.
Mahfud menegaskan bahwa pemerintahan saat ini, yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto, memiliki kewenangan konstitusional untuk menjalankan program dan kebijakan.
Oleh karena itu, kritik terhadap pemerintah harus dilakukan secara objektif dan berbasis konstitusi, bukan sekadar menolak tanpa alasan yang jelas.
"Makanya kalau ada kesalahan baru kita katakan (salah, red.). Kalau orang membuat program untuk apa disalahkan? Dia memang kewenangan secara konstitusi untuk membuat program dan membuat kebijakan-kebijakan dasar. Karena dia menang pemilu," tegasnya.
Namun, Mahfud juga mengingatkan bahwa jika kebijakan pemerintah melanggar konstitusi, maka sudah menjadi tugas akademisi dan masyarakat untuk memberikan kritik. "Sejauh tidak melanggar konstitusi, ya enggak apa-apa," tambahnya.
Mahfud MD mengkritik dua kelompok yang kerap muncul di lingkungan akademik, yakni kaum fatalis dan nihilis.
"Sekarang ini banyak tempat kampus itu orang yang fatalis, ah sudahlah apa enggak ada gunanya. Ada juga yang kemudian nihilis menganggap apa itu yang dikerjakan itu salah semua. Enggak boleh begitu. Pasti ada sisa-sisa yang tetap baik," jelasnya.
Menurut Mahfud, penting bagi kampus untuk tetap rasional dalam menyikapi kebijakan pemerintah. Kampus harus bisa melihat sisi baik dari kebijakan yang berjalan, tetapi tetap mengkritisi jika ada pelanggaran atau penyimpangan.
"Kita dukung yang baik, yang tidak baik ya (kritik, red.). Kita harus kan tidak boleh fatalis, tidak boleh nihilis, tidak boleh skeptik radikal. Artinya, semua masalah ditanyakan terus, dipersoalkan terus dasarnya. Ndak akan selesai-selesai terus," ujarnya.
Lebih lanjut, Mahfud MD menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki tugas sejarah yang penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Jadi, pesan saya yang pokok itu dunia perguruan tinggi itu sekarang harus mengemban tugas sejarah. Yaitu, menjaga republik ini dengan sebaik-baiknya," tegasnya.***
Editor : Yosep Saepul Ramadan

