Makanan Layu Jangan Langsung Dibuang, Kenali Tanda Masih Aman Dikonsumsi
Makanan layu, keriput, atau berubah warna belum tentu harus dibuang. Kenali tanda makanan rusak dan cara aman memanfaatkannya agar tidak boros.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Tidak semua makanan yang layu, keriput, berubah warna, atau mengering harus langsung dibuang. Sejumlah bahan makanan masih dapat dimanfaatkan selama belum menunjukkan tanda-tanda pembusukan yang membuatnya tidak aman dikonsumsi.
Kebiasaan memilah makanan dengan tepat dapat membantu mengurangi food waste sekaligus menghemat pengeluaran rumah tangga. Namun, masyarakat tetap perlu mengenali perbedaan antara perubahan kualitas makanan dengan tanda makanan sudah rusak.
Makanan sebaiknya segera dibuang apabila sudah berjamur, berlendir, mengeluarkan cairan, atau memiliki bau menyengat dan asam. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda terjadinya pembusukan dan meningkatkan risiko keracunan makanan.
Pisang Menghitam hingga Sayuran Layu Masih Bisa Diolah
Beberapa perubahan pada makanan sebenarnya tidak selalu menunjukkan bahwa makanan tersebut sudah rusak. Pisang yang menghitam, apel yang keriput, serta sayuran yang mulai layu masih dapat dimanfaatkan untuk berbagai olahan.
Pisang yang terlalu matang, misalnya, dapat digunakan untuk membuat smoothie atau makanan panggang. Apel yang mulai keriput juga masih bisa diolah menjadi makanan panggang maupun campuran masakan.
Sementara itu, sayuran yang layu dapat dimanfaatkan untuk sup atau tumisan. Sayuran berdaun seperti bayam dan kale bahkan dapat direndam dalam air dingin selama setidaknya 30 menit untuk membantu mengembalikan kesegarannya.
Buah Berjamur Tidak Selalu Bisa Diselamatkan
Penanganan makanan berjamur perlu dilakukan dengan lebih hati-hati. Pada buah keras dan berukuran besar seperti apel, bagian yang berjamur dapat dipotong dengan jarak beberapa sentimeter dari area yang terdampak.
Namun, cara tersebut tidak berlaku untuk buah yang teksturnya lunak. Stroberi dan buah beri yang sudah berjamur sebaiknya dibuang seluruhnya karena jamur dapat menyebar lebih jauh pada makanan dengan tekstur lunak.
Hal serupa berlaku pada roti. Roti yang sudah berjamur sebaiknya dibuang seluruhnya, sedangkan roti yang hanya mengeras masih dapat dimanfaatkan dengan cara dipanggang atau diolah menjadi remah roti.
Kentang Hijau dan Bertunas Perlu Diwaspadai
Kentang, wortel, dan labu yang hanya mengalami memar masih dapat digunakan setelah bagian yang rusak dipotong.
Khusus kentang, masyarakat perlu lebih berhati-hati apabila warnanya sudah banyak berubah menjadi hijau atau muncul banyak tunas. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan meningkatnya kandungan senyawa alami yang berpotensi beracun sehingga sebaiknya tidak dikonsumsi.
Nasi dan Pasta Matang Harus Segera Disimpan
Makanan matang seperti nasi dan pasta masih dapat digunakan kembali apabila segera disimpan di lemari es setelah selesai dimasak.
Sebaliknya, makanan matang yang telah berada pada suhu ruang selama dua jam atau lebih sebaiknya dibuang untuk menghindari risiko pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit.
Untuk produk susu seperti susu, yoghurt, dan keju lunak, makanan yang sudah melewati batas penggunaan atau telah menunjukkan tanda berjamur sebaiknya tidak dikonsumsi.
Sementara itu, pada keju keras seperti parmesan, bagian yang berjamur masih dapat dipotong dengan jarak yang cukup lebar sebelum bagian lainnya digunakan.
Kenali Tanda Makanan Rusak Sebelum Dikonsumsi
Pada dasarnya, perubahan warna, tekstur, atau kondisi makanan tidak selalu berarti makanan tersebut sudah rusak. Beberapa makanan memang mengalami perubahan alami seiring proses pematangan atau penyimpanan.
Namun, jika sudah muncul tanda pembusukan seperti jamur, lendir, cairan yang tidak normal, atau bau menyengat dan asam, sebaiknya jangan mengambil risiko.
Mengenali kondisi makanan dengan tepat bukan hanya membantu mengurangi limbah makanan, tetapi juga menjaga keamanan dan kesehatan keluarga.***
Editor : JakaPermana


