Manchester City vs Bayern Munchen, Cerita Pep Guardiola Saat Dikalahkan Thomas Tuchel

Pep Guardiola pernah kalah menyakitkan dari Thomas Tuchel. Tapi, dia mengabaikan kekalahan itu menjelang laga perempat final Liga Champions Manchester City vs Bayern Munchen.

Manchester City vs Bayern Munchen, Cerita Pep Guardiola Saat Dikalahkan Thomas Tuchel
Pep Guardiola berkisah ketika Manchester City dikalahkan Chelsea yang ditukangi Thomas Tuchel, pelatih Bayern Munchen saat ini.

INILAHKORAN, Bandung- pep guardiola pernah kalah menyakitkan dari thomas tuchel. Tapi, dia mengabaikan kekalahan itu menjelang laga perempat final liga champions manchester city vs bayern munchen.

pep guardiola akan memimpin klubnya pada laga manchester city vs bayern munchen di Stadion Etihad, Manchester, Rabu dinihari WIB ini. Ini menjadi laga pertama perempat final liga champions.

Bagi pep guardiola, partai manchester city vs bayern munchen bukan pertemuan pertamanya dengan thomas tuchel di ajang liga champions. Keduanya pernah bertemu, bahkan di laga puncak.

manchester city, klub yang ditangani pep guardiola, kalah 0-1 pada final liga champions 2021. Chelsea saat itu ditukangi thomas tuchel. Gol tunggal pasukan thomas tuchel dijaringkan Kai Havertz.

Namun Guardiola mengatakan dia tidak terlalu lama terganggu oleh kekalahan itu. Sebaliknya, dia terus berupaya bangkit bersama manchester city.

“Saya sedih, tapi saya mengucapkan selamat kepadanya dan Chelsea atas kemenangannya. Itu yang terjadi,” katanya. 

Guardiola mengaku mengevaluasi pertandingan itu sebulan kemudian. Dia menilai penampilan manchester city tidaklah seburuk itu. Hanya, mereka sama sekali tak menunjukkan performa yang cukup untuk memenangkannya.

“Itu adalah pertandingan yang sangat ketat seperti yang selalu terjadi melawan Chelsea pada periode itu. Lupakan dan coba lagi,” tambahnya.

Ini adalah usaha ketujuh Guardiola untuk memimpin manchester city ke liga champions. Enam kali dia mencoba membawa Chelsea ke tangga juara, selalu mengalami kegagalan.

Tetapi dia pernah memenangkannya liga champions dua kali bersama Barcelona, pada 2009 dan 2011. Salah satunya dengan menyingkirkan Chelsea, klub yang saat itu ditangani Jose Mourinho.

Demi mempertahankan rekor City di Eropa dengan dia sebagai pelatih, Guardiola merujuk pada pengalaman pegolf Amerika Serikat, Jack Nicklaus, yang memiliki rekor memenangkan 18 kejuaraan utama.

“Ini adalah impian saya. Untuk berada di sini, berada di posisi terdepan dalam kompetisi liga champions. Kami ingin mencoba seperti kami mencoba sepanjang waktu, tetapi itu tidak berarti kami akan menang,” katanya.

Dia kemudian merujuk apa yang terjadi pada Jack Nicklaus. “Berapa banyak (turnamen) Master yang dimainkan Jack Nicklaus dalam karirnya? Dalam 30-40 tahun sebagai pegolf empat turnamen (setiap tahun)?”

Dia kemudian menghitung sendiri, ada sekitar 164 turnamen yang diikuti. Dari jumlah itu, Jack Nicklaus hanya memenangkan 18 di antaranya.

“Wow, dia lebih banyak kalahnya daripada menang. Itulah olahraga. Di sepak bola, di golf, di bola basket. Michael Jordan, atlet bola basket terbaik bagi saya, memenangkan enam gelar NBA dalam 14 tahun. Dia gagal lebih dari dia menang,” ujarnya.

Yang penting, menurut Guardiola, adalah tampil dan bersaing dengan baik, melakukan yang terbaik, mengetahui bahwa pasukannya harus sempurna untuk mencoba mendapatkan hasil yang baik.

“Tidak lebih dari itu. Saya menjalani profesi saya seperti itu. Setelah itu, jika saya kalah, maka saya kalah. Saya tidak sempurna. Yang penting kami masih di sana setelah memenangkan apa yang kami menangkan musim lalu,” ujarnya.

Bek tengah Rúben Dias, yang bermain pada final lawan Chelsea itu, juga saat manchester city kalah agregat 5-6 oleh Real Madrid musim lalu, meyakini manchester city siap meladeni tantangan bayern munchen.

“Semua dari kami memiliki perasaan khusus ketika datang ke tahap ini,” katanya. 

Sekarang, menurutnya, adalah waktu yang tepat untuk bersama dan membuahkan hasil. Tampil di lapangan dan melakukan apa yang bisa dilakukan, menunjukkan yang terbaik.

“Sekarang saatnya tim lolos atau tidak. Saya pikir tim kami dibesarkan oleh momen-momen ini dan itu adalah karakteristik yang sangat bagus untuk dimiliki,” katanya.

Dias menawarkan pandangan filosofis tentang penampilan City di liga champions baru-baru ini. “Kami telah melakukannya dengan sangat baik, tetapi itu tidak cukup. Kami tahu masih banyak yang harus kami lakukan. Seperti yang dikatakan orang bijak kepada saya: 'Kami tidak kalah di final, kami hanya selangkah lebih dekat (untuk memenangkannya)’. Itulah cara melihatnya. Setiap tahun kami semakin dekat dan membuat kami semakin bangga.”***


Editor : Zulfirman