Melejit di Jabar, 114 Ribu Orang Terserap dari Arus Investasi Awal 2026

Kualitas investasi di Jawa Barat mulai menunjukkan dampak. Bukan sekadar angka realisasi, arus modal yang masuk pada triwulan I 2026

Melejit di Jabar, 114 Ribu Orang Terserap dari Arus Investasi Awal 2026
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Kualitas investasi di Jawa Barat mulai menunjukkan dampak. Bukan sekadar angka realisasi, arus modal yang masuk pada triwulan I 2026, efektif membuka lapangan kerja dalam skala besar.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Barat mencatat, total tenaga kerja yang terserap dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) telah melampaui 114 ribu orang. Angka ini menjadi sinyal kuat, investasi yang masuk semakin produktif dan berorientasi pada penciptaan kerja.

Kepala DPMPTSP Jabar, Dedi Taufik menyebut, peningkatan tersebut sebagai indikator positif transformasi investasi di daerah.

“Dari sisi PMA, penyerapan tenaga kerja mencapai 50.108 orang atau meningkat 11.022 orang dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sementara dari PMDN, tenaga kerja yang terserap mencapai 64.730 orang atau naik 12.734 orang,” ujar Dedi, Senin (4/5/2026).

Struktur penyerapan tenaga kerja masih ditopang kuat oleh sektor industri pengolahan. Karakter industri yang padat karya menjadikannya kontributor utama, khususnya pada investasi PMA.

“Sektor industri pengolahan masih mendominasi karena sifatnya padat karya dan menjadi tulang punggung industri di Jawa Barat,” ucapnya.

Secara geografis, Kabupaten Bekasi masih menjadi magnet utama tenaga kerja dari investasi asing. Kawasan industri yang terintegrasi serta dukungan infrastruktur mendorong serapan tenaga kerja PMA di wilayah ini mencapai 13.179 orang atau 26,30 persen.

Sisi lain, Kabupaten Bogor memimpin serapan tenaga kerja dari investasi domestik. Sebanyak 9.630 pekerja terserap dari PMDN, didorong oleh ekspansi kawasan industri baru dan aktivitas sektor penunjang.

Fenomena menarik muncul dari tren PMDN. Meski nilai investasinya menurun dibanding tahun sebelumnya, jumlah tenaga kerja yang terserap justru meningkat signifikan.

“Ini menandakan investasi yang masuk semakin berkualitas karena mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak, meskipun nilai investasinya tidak sebesar sebelumnya,” katanya.

Ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk mengarahkan investasi ke sektor-sektor yang memberikan efek berganda bagi masyarakat, terutama dalam membuka peluang kerja yang luas dan berkelanjutan.

“Kami fokus pada investasi yang tidak hanya besar secara nilai, tetapi juga berdampak luas bagi masyarakat, khususnya dalam membuka peluang kerja,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana