Membuka Dunia dari Pelosok Kupang
BELAJAR membaca di pedalaman Kupang kini lebih menyenangkan. Anak-anak pun tumbuh lebih berani.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Suasana kelas I UPTD SD Inpres Oebola, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), terasa berbeda.
Anak-anak tidak hanya duduk mendengarkan guru di depan kelas. Mereka saling menunjukkan kemampuan membaca abjad, memberi contoh kepada teman, lalu mengikuti pelajaran dengan penuh semangat.
Ada yang berani menyebutkan huruf, ada pula yang mencoba mengikuti teman di sebelahnya. Suasana belajar berlangsung lebih cair. Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk mencoba sekaligus membangun kepercayaan diri.
Cara belajar seperti itulah yang mendapat perhatian Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Hafidz Muksin saat mengunjungi sekolah tersebut, Kamis (5/11).
Di tengah keterbatasan dan tantangan pendidikan di wilayah pedalaman, kreativitas guru menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan.
Anak-anak tidak hanya dituntut mampu mengenali huruf dan membaca, tetapi juga perlu merasa nyaman untuk belajar dan berani menunjukkan kemampuannya.
Hafidz secara khusus mengapresiasi Fony Sanam, guru kelas I UPTD SD Inpres Oebola, yang menerapkan metode pembelajaran kreatif setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan melalui kolaborasi INOVASI dan Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI).
Melalui program tersebut, Fony bersama sejumlah guru di Kabupaten Kupang mengembangkan metode pengajaran literasi dasar yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
Materi pengenalan huruf, suku kata, hingga kemampuan membaca disampaikan dengan cara yang lebih interaktif.
"Saya sangat mengapresiasi semangat para guru. Kita tidak mungkin menerapkan pola atau cara pendidikan yang sama kepada semua orang karena setiap daerah memiliki tantangan berbeda. Praktik baik di sini dapat menjadi pengalaman untuk mengembangkan metode pembelajaran sesuai kondisi masing-masing wilayah," kata Hafidz, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (5/11).
Menurut dia, setiap anak memiliki kebutuhan dan kemampuan belajar yang berbeda. Karena itu, pendekatan pendidikan tidak bisa diseragamkan. Kreativitas guru diperlukan agar materi pelajaran dapat diterima dengan baik, terutama oleh siswa di kelas awal yang sedang membangun kemampuan literasi dasar.
Hafidz juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menggembirakan. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang dirindukan anak, bukan ruang yang membuat mereka merasa takut atau tertekan.
"Jangan sampai anak-anak pergi ke sekolah dengan perasaan takut karena menganggap sekolah sebagai tempat yang menakutkan. Sebaliknya, mereka harus merasa bahagia dan ingin segera bangun tidur, mengenakan seragam, lalu berangkat ke sekolah karena ingin belajar," ujarnya. (gin)
Editor : Inilahkoran

