Menebus Hati yang Terluka

Menebus Hati yang Terluka
Net

Oleh: Bsafaat

ROBERTO Mancini tahu betul bahwa cinta yang sempat patah tidak bisa disembuhkan dalam semalam.

Kembali ditunjuk menukangi Timnas Italia setelah pemecatan Gennaro Gattuso akibat kegagalan melangkah ke Piala Dunia 2026, Mancini datang bukan sekadar membawa taktik, melainkan sebuah misi penebusan dosa kepada publik Azzurri.

Hubungan Mancini dan para loyalis Italia memang sempat berada di titik nadir. Pada 2023, hanya dua tahun setelah ia dipuja bagai pahlawan karena mempersembahkan trofi Euro 2020, Mancini mendadak pergi.

Perselisihannya dengan Presiden FIGC, Gabriele Gravina, membuatnya angkat kaki dan secara mengejutkan memilih berlabuh ke Arab Saudi.

Kepergian yang tiba-tiba itu meninggalkan luka mendalam bagi para penggemar yang merasa ditinggalkan begitu saja.

Kini, di usianya yang menginjak 61 tahun, Mancini berdiri di tepi lapangan yang sama dengan kerendahan hati yang baru. Ia tidak ingin lagi berlindung di balik kejayaan masa lalu.

“Saya tidak merasa pantas mendapat pujian karena trofi [Euro 2020] itu. Semua sudah berlalu dan tidak berarti apa-apa lagi sekarang,” ujar Mancini dengan nada emosional, seperti dikutip dari ESPN.

Ia sepenuhnya memahami amarah dan kekecewaan yang masih membekas di hati para suporter. Baginya, kemarahan fans adalah bentuk cinta yang terluka.

“Ketika seorang suporter merasa dikhianati, mereka sangat berhak untuk kecewa. Kita harus berlapang dada menerimanya,” tutur sang pelatih.

Mancini sadar, cara terbaik untuk menyembuhkan luka tersebut bukan lewat katakata manis, melainkan pembuktian di lapangan hijau. Ujian pertamanya sudah di depan mata.

Italia dijadwalkan melakoni laga-laga berat di ajang UEFA Nations League melawan Belgia, Turki, dan Prancis dari 26 September hingga 6 Oktober.

Turnamen ini bukan hal asing bagi Mancini, mengingat ia sempat membawa Italia meraih posisi ketiga sebelum memutuskan hengkang dulu.

“Untuk memenangkan kembali hati mereka, tidak ada jalan pintas.

Kami harus bekerja keras, mengembalikan tim nasional ke tempat yang semestinya, dan membawa kembali kedamaian itu,” pungkasnya.

Di bawah asuhan jilid keduanya ini, Mancini tidak hanya bertarung demi trofi, tetapi juga demi memulihkan kepercayaan yang sempat hilang dari jutaan rakyat Italia. (bsf )


Editor : Inilahkoran