Menelisik Kedalaman Kendang Penca Jabar, Tiga Gaya, Akar Sejarah dan Tantangan

Tetabuhan kendang penca sebagai iringan utama seni bela diri sekaligus kesenian tradisional Sunda memiliki kekayaan ragam gaya di Jabar.

Menelisik Kedalaman Kendang Penca Jabar, Tiga Gaya, Akar Sejarah dan Tantangan
Praktisi terompet kendang penca Dede Yanto mengatakan, setidaknya ada tiga gaya utama yang menjadi rujukan dasar yaitu gaya Cimande, gaya Cianjur-Sukabumi, dan gaya majemuk yang berkembang pesat di wilayah Bandung. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Tetabuhan kendang penca sebagai iringan utama seni bela diri sekaligus kesenian tradisional Sunda memiliki kekayaan ragam gaya di Jabar.

Berbeda dari satu daerah ke daerah lain, perbedaan kendangpenca itu bukan sekadar soal bunyi. Melainkan berkaitan erat dengan sejarah, aliran pencak silat, dan nilai budaya yang melekat di masing-masing tempat.

Praktisi terompet kendang penca Dede Yanto mengatakan, setidaknya ada tiga gaya utama yang menjadi rujukan dasar yaitu gaya Cimande, gaya Cianjur-Sukabumi, dan gaya majemuk yang berkembang pesat di wilayah Bandung.

"Gaya Cimande dari wilayah Bogor dianggap sebagai salah satu yang paling tua dan menjadi induk bagi banyak pengembangan selanjutnya," kata Dede saat ditemui di sela kegiatan pelatihan kendang penca di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Selasa (16/6/2026).

"Untuk gaya Cianjur memiliki ciri khas tersendiri melalui tradisi Maenpo yang dulunya berkembang di lingkungan bangsawan dengan iringan kecapi suling," sambung Ketua Umum Pamenca Jabar Banten itu.

Sementara itu, ungkap Dede, Bandung tumbuh menjadi pusat pengembangan dan barometer utama kendang pencak, menggabungkan unsur dari berbagai daerah sehingga menciptakan gaya yang lebih luwes dan sering dijadikan acuan umum.

"Namun perkembangan ini memunculkan tantangan, banyak generasi muda yang lebih mengenal gaya Bandung, sementara gaya asli daerah asal mulai jarang terdokumentasi secara lengkap," ungkapnya.

Untuk itu, terang Dede, melalui pelatihan yang diikuti 50 peserta dari Bandung Raya hingga luar wilayah seperti Banten, Purwakarta, dan Garut  merupakan upaya yang dilakukan sekaligus memperkenalkan ketiga gaya ini secara utuh.

Termasuk, menjaga kekhasan masing-masing dan menyusun catatan sejarah yang selama ini masih minim.

"Tidak hanya untuk kebutuhan lokal, kendang penca Jawa Barat juga ternyata menarik perhatian penikmat seni mancanegara," terangnya.

"Terutama di Eropa yang mencari pola tabuhan asli dan keselarasan sempurna antara irama kendang dengan gerakan pencak, sesuatu yang dianggap lebih rinci dibandingkan kesenian serupa dari daerah lain di Indonesia," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani