Mengenal Lebih Dekat Masjid Agung Karawang, Saksi Bisu Penyebaran Islam di Jawa
Masjid Agung Karawang yang berada di Alun-alun Kota Karawang menjadi destinasi wisata religi menarik saat Ramadan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Masjid Agung Karawang yang berada di Alun-alun Kota Karawang menjadi destinasi wisata menarik saat Ramadan. Ribuan warga datang setiap harinya untuk menghabisan waktu di tempat sejarah penyebaran islam di pulau jawa tersebut.
Sebelum masyarakat mengenal nama Masjid Agung Karawang, Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Agung Syekh Quro yang dibangun pada abad ke 14 atau sekitar tahun 1400 an.
Pembangunan masjid ini untuk penyebaran agama islam di Karawang dan sekitarnya. Pemilihan lokasi masjid dinilai strategis pada saat itu lantaran berada di dekat aliran sungai Citarum.
Pada waktu itu sekitar abad 14 transportasi utama menggunakan aliran air sungai citarum. Disekitar aliran sungai Citarum juga menjadi pusat ekonomi dan sosial pada masa itu.
Sehingga pembangunan Masjid Syek Quro atau Masjid Agung Karawang sangat strategis pada waktu itu hingga kini. Di samping Masjid Agung Karawang ini sekarang berdiri kantor pemerintahan dan pasar sehingga menjadi pusat keramaian atau alun - alun kota.
Tim Ahli Cagar Budaya (TACB ) Karawang, Dharma Gautama mengatakan berdasarkan literatur sejarah menunjukan indikasi kuat Masjid Agung Karawang merupakan salah satu masjid paling awal yang dibangun di Pulau Jawa.
“ Masjid ini dibangun untuk penyebaran islam dan pembentukan peradaban masyarakat Karawang pada awal masuknya islam di pulau Jawa,” kata Dharma, Senin ( 23/2/26).
Bangunan Masjid Agung Karawang merupakan perpaduan unsur Asia. Nusantara dan nilai - nilai ke Islaman. Pada awalnya struktur masjid didominasi material kayu dengan konsep bangunan seperti Masjid Demak. Dalam sejarahnya Masjid Agung Karawang sedikitnya sudah tiga kali renovasi besar pada masa kepemimpinan bupati Karawang.
Renovasi pertama dilakukan zaman Raden Adipati Singasari awal tahun 1800 an. Kemudian zaman Raden Adipati Arya Satradiningrat tahun 1886. Pembangunan masjid kemudian dilanjutkan Raden Adipati Arya Suryadiningrat. Dalam pembangunannya Masjid Agung Karawang memiliki ciri khas atap tumpang atau bertingkat tiga. Tiga susnan atap tersebut melambangkan nilai utama ajaran islam yaitu Iman, islam dan Ihsan yang mencerminkan filosofi ke islaman nusantara.
Menurut Dharma dalam perkembangan terbaru sejumlah elemen asli masjid seperti struktur kayu penyangga dan bentuk atap tumpang sudah hilang. “ Harus ada upaya pelestarian berbasis kajian sejarah agar nilai - nilai masjid tidak hilang,” katanya.
Dalam perkembangannya saat ini Masjid Agung Karawang telah menjadi destinasi wisata religius. Pengunjung berdatangan baik dari Karawang sendiri atau berbagai daerah. Setiap bulan puasa atau Ramadan ini Pemkab Karawang sampai harus menurunkan Satpol PP untuk mengatur pengunjung yang datang.***
Editor : JakaPermana


