Menguak Makna Filosofis Ritual Sukuran Tutup Taun Saka Sunda Kampung Adat Cireundeu

Rangkaian puncak acara Sukuran Kampung Adat Cireundeu dengan tema Tutup Taun 1959 Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda berlangsung khidmat sejak 9 -11 Juli 2026.

Menguak Makna Filosofis Ritual Sukuran Tutup Taun Saka Sunda Kampung Adat Cireundeu
Tokoh Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi ungkap makna filosofi dibalik acara Sukuran Kampung Adat Cireundeu dengan tema Tutup Taun 1959 Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda.

INILAHKORAN.ID – Rangkaian puncak acara Sukuran Kampung Adat Cireundeu dengan tema Tutup Taun 1959 Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda berlangsung khidmat sejak 9 -11 Juli 2026.

Di balik setiap gerak langkah dan sesaji yang disiapkan, tersimpan filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama yang tak hanya menjadi warisan leluhur, namun juga jawaban nyata atas tantangan masa kini.

Tokoh Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi menjelaskan, hitungan waktu dalam tradisi ini bukan sekadar angka pelajaran sekolah, melainkan urutan prosesi ritual yang sarat makna.

"Mulai dari tanggal 1 Sura, berlanjut ke tanggal 10 Sura, hingga puncaknya di tanggal 30 Sura, semuanya menjadi satu rangkaian pemaknaan," kata Abah Widi saat ditemui, Sabtu (11/7/2026).

Inti dari seluruh prosesi ini, ungkap Abah Widi, wujud rasa syukur yang tak terputus atas kesehatan yang diterima, rezeki yang mengalir, hingga kesempatan hidup di tengah kelimpahan alam.

"Kalau umat Muslim mengenal salat, di adat kami ini disebut sembahyang, rasa syukur yang harus dijalankan setiap detik dan setiap menit atas segala pemberian Tuhan," ungkapnya.

Simbol Ritual: Pesan Tegas Jaga Alam Agar Tak Menjadi Air Mata

Abah Widi menjelaskan, setiap benda yang dihadirkan dalam upacara pun memiliki makna yang terhubung erat dengan kelestarian lingkungan. Seperti kendi dari tanah liat yang diletakkan di simpang tiga tempat saat upacara dimulai.

Ia menuturkan, hal itu melambangkan manusia harus menjaga bumi sebagai tempat berpijak. Di dalamnya berisi air jernih, dengan makna 'Jangan sampai mata air yang menjadi sumber kehidupan ini mengering, atau berubah menjadi air mata karena alam rusak akibat ulah manusia'.

"Di atas kendi diletakkan tanaman muda, sebagai pengingat akan kewajiban terus merawat dan menanam demi masa depan," tuturnya.

Tak hanya itu, sebut Abah Widi, kemenyan yang dibakar dan berbagai hidangan berbahan dasar singkong yang disajikan pun bukan tanpa alasan. Semuanya berasal dari hasil alam, sesuai prinsip adat yang tidak memilah-milah apa yang diharamkan atau dibolehkan selama bermanfaat dan tidak merusak.

"Orang boleh menilai apa saja, tapi yang terpenting bagi kami tetap menjaga tanah, menjaga air dan menjaga pepohonan, tiga hal pokok yang menjaga kehidupan tetap berjalan," ujarnya.

Lebih lanjut Abah Widi mengungkapkan, kampung ini pun mempraktikkannya secara nyata dengan membagi wilayah hutannya menjadi tiga bagian, yakni Hutan Tutupan, Hutan Larangan, dan Hutan Baladahan, semuanya dijaga ketat agar tidak rusak atau berubah fungsi.

Menurutnya, upaya inilah yang membuat Cireundeu menjadi daya tarik tersendiri, bahkan bagi pengunjung dari luar negeri.

"Mereka datang bukan untuk mendengar cerita, tapi mencari fakta nyata. Fakta bahwa 60 kepala keluarga di sini tidak pernah mengonsumsi beras, dan tetap hidup sehat. Itulah yang membuat Cireundeu menjadi pusat edukasi ketahanan pangan dunia," bebernya.***


Editor : JakaPermana