BRT Bandung Raya Diproyeksikan Mengaspal Medio 2027, Dishub Jabar Ungkap Progresnya..
Dishub Jabar mengungkap progres pembangunan BRT Bandung Raya yang diprediksi mulai beroperasi di 2027
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya diproyeksikan mengaspal pada medio 2027.
Proyek pembangunan dari pemerintah pusat ini diharapkan mampu menjadi solusi, atasi kemacetan di kawasan Bandung Raya yang meliputi Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, plus sebagian kawasan Sumedang.
Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Jawa Barat, Tata Bina Udin mengatakan, pembangunan infrastruktur BRT Bandung Raya terus digeber untuk mengejar operasional di pertengahan 2027.
Berdasarkan laporan yang masuk per 7 Juni 2026, untuk halte on corridor atau di jalur khusus baru di angka 4,7 persen.
Untuk jalur on corridor atau jalur khusus BRT Bandung Raya masih di angka 0,38 persen, pembangunan Depo Cicaheum 0,24 persen, Depo Leuwipanjang 4,9 persen dan jalur off corridor di 12,2 persen.
Disinggung akselerasinya masih rendah, mengingat BRT Bandung Raya diproyeksikan beroperasi penuh tahun depan, Tata mengaku, pembangunan fisik infrastruktur bergantung pada eksekusi pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan.
"Kebetulan kalau pembangunan fisik itu dari Kementerian. Kita hanya koordinasi saja. Itu semuanya program kementerian, mulai perencanaan, fisik. Kita membantu di sisi operasionalnya saja," ujar Tata Bina saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Senin (6/7/2026).
Lebih lanjut ia menyampaikan, BRT Bandung Raya masih sesuai perencanaan awal. Ia berharap proyek transportasi massal ini dapat segera rampung, guna mengurai kemacetan kawasan perkotaan.
"Masih sesuai perencanaan yang sudah ditentukan di awal," ucapnya.
MJT Bagian BRT Bandung Raya
Sementara mengenai Metro Jabar Trans (MJT) yang nantinya bakal menjadi bagian BRT Bandung Raya kata Tata Bina, saat ini masih beroperasi dengan melayani enam koridor utama, yakni Koridor 1 Leuwipanjang-Soreang, Koridor 2 Alun-Alun Bandung-Kota Baru Parahyangan, Koridor 3 Baleendah-BEC (Bandung Electronic Center), Koridor 4 Leuwipanjang-Dago, Koridor 5 Dipatiukur-Jatinangor melalui Tol Mohammad Toha, serta Koridor 6 Leuwipanjang-Majalaya.
Dishub Jabar kata dia, akan terus melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan, termasuk ketika BRT Bandung Raya nanti beroperasi penuh. Termasuk transisi ke armada berbasis tenaga listrik.
"Akan menyesuaikan untuk mengisi koridor-koridor (BRT Bandung Raya tersebut). (Armada) memang semuanya mengarah ke sana (listrik). Cuma mungkin tidak serta merta, butuh waktu dan perencanaan lebih matang," katanya.
Sebelumnya, merujuk pemaparan terakhir antara Kemenhub dan Dishub Jabar, proyek BRT Bandung Raya yang akan digarap mencakup pembangunan 38 halte, 7 depo, 25 ruas jalan, serta 35 jalur dedicated lane.
Puluhan halte BRT direncanakan berdiri di sejumlah titik strategis dan kawasan padat aktivitas masyarakat. Di antaranya Terminal Stasiun Hall, Pasar Baru, Dalem Kaum, Pasirkoja, Tegallega, Jalan BKR, Taman Tegallega sisi utara dan selatan, Ciateul, ITC Kebon Kalapa, Kepatihan, Alun-alun, Cikapundung, Naripan, hingga Pasar Kosambi yang memiliki dua titik halte.
Selain itu, halte juga akan dibangun di Stadion Sidolig (dua titik), Stasiun IBCC, Santa Maria, Cicadas, Kebonwaru, Simpang Lima, Asia Afrika, Dulatip, GKI Anugerah, Andir, Jamika, Suryani, Bundaran Cibeureum, Batas Kota, RS Rajawali, YWKA, Rajawali Timur, Ciroyom, Trinitas, Kebonjati, Banceuy Center, hingga BTM.
Bangun 7 Depo BRT Bandung Raya
Sementara itu, tujuh depo BRT akan dibangun di Terminal Cicaheum, Terminal Leuwipanjang, Kutawaringin Soreang, Padalarang, Majalaya, Cinunuk, dan Stasiun Hall.
Rinciannya, Terminal Cicaheum menampung 59 unit bus, Leuwipanjang 24 unit, Kutawaringin Soreang 75 unit, Padalarang 35 unit, Majalaya 28 unit, Cinunuk menjadi depo terbesar dengan 160 unit, dan Stasiun Hall 27 unit. Total armada BRT Bandung Raya direncanakan mencapai 478 unit bus.
Untuk mendukung kecepatan dan ketepatan waktu layanan, Kemenhub juga akan membangun 35 jalur dedicated lane atau jalur khusus bus, yang konsepnya menyerupai Busway TransJakarta.
Jalur khusus ini akan membentang di kawasan Stasiun Hall, Pasar Baru, Dalem Kaum, Pasirkoja, Tegallega, Taman Tegallega, Ciateul, ITC Kebon Kalapa, Kepatihan, Alun-alun, Cikapundung, Naripan, Pasar Kosambi, Stadion Sidolig, IBCC, Santa Maria, Cicadas, Kebonwaru, Simpang Lima, Asia Afrika, Dulatip, GKI Anugerah, Andir, Jamika, Suryani, Bundaran Cibeureum, Batas Kota, RS Rajawali, YWKA, Rajawali Timur, Ciroyom, Trinitas, Kebonjati, Banceuy Center, hingga BTM.
Rencananya, BRT Bandung Raya akan diperkuat dengan sekitar 478 unit bus yang melayani 21 koridor dedicated line, sebagai fondasi transportasi massal modern dan terintegrasi di kawasan metropolitan Bandung Raya.
Biaya pembangunan BRT Bandung Raya ini bersumber dari World Bank, yang dikelola oleh Kemenhub. Rp1,3 triliun disiapkan, antaranya Rp333,3 miliar untuk dedicated lane atau jalur khusus sepanjang 21 kilometer dan sisanya dialokasikan ke pembangunan depo, halte dan infrastruktur penunjang lainnya.
Editor : Ahmad Sayuti

