Menilisik Sejarah Taman Junghuhn, Saksi Bisu Perlawanan Terhadap Malaria

Taman Junghuhn menjadi saksi sejarah awal mulanya penanam pohon kina untuk obat malaria di Bandung khusunya di kawasan Jayagiri Lembang

Menilisik Sejarah Taman Junghuhn, Saksi Bisu Perlawanan Terhadap Malaria
Monumen Taman Junghuhn (ilustrasi)

INILAHKORAN.ID - Di lereng gunung Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terdapat sebuah kawasan yang menyimpan jejak panjang sejarah perjuangan melawan malaria dan pelestarian keanekaragaman hayati Nusantara, yakni Taman Junghuhn

Sebagai Cagar Alam (CA) Junghuhn yang kini juga akrab disebut Taman Junghuhn menjadi saksi bisu perubahan zaman yang menghimpit ruang hidup alam, dan jadi kawasan pertama penanaman pohon kina obat malaria. .
 
Ditetapkan melalui Gouvernment Besluit No. 6 Staatsblad No. 90 tanggal 21 Februari 1919, kawasan seluas 2,5 hektar ini merupakan salah satu dari 25 Natuurmonumenten pertama di Nusantara yang ditetapkan pemerintah Hindia Belanda. 

Dibuat khusus untuk menghormati Frans Willhelm Junghuhn, sosok yang membawa dan menanam kina sebagai obat malaria pertama kalinya di tanah ini, sekaligus mengabadikan jasanya dalam eksplorasi keanekaragaman hayati.
 
Di tengah hamparan pepohonan, berdiri monumen sekaligus makam Junghuhn yang menjadi titik fokus ziarah sejarah. Di sebelah timurnya, sebuah makam yang dahulu dipercaya sebagai tempat peristirahatan istri Junghuhn, ternyata milik Johan Eliza de Friz, farmakolog yang menjadi penasihat proyek pengembangan kina pada abad ke-19. 

Sementara di utara, pemakaman umum umat Nasrani masih aktif digunakan hingga kini.
 
Dengan topografi datar di ketinggian sekitar 1.274 meter di atas permukaan laut dan iklim tipe B dengan curah hujan rata-rata 3.600 mm per tahun, kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna. 

Di antara pepohonan yang menjulang tinggi terdapat Pinus merkusii, Cyprus sp., Melaleuca leucadendron, serta pohon kina itu sendiri (Cinchona succirubra) yang menjadi bukti sejarah. Di bawahnya, tumbuhan bawah seperti babadotan, haur koneng, dan bunga kertas memenuhi celah-celah tanah.
 
Untuk kehidupan fauna, kawasan ini menjadi tempat tinggal bagi bajing (Sciurus sp.), burung pipit (Lonchura veruginosa), dan burung sesapmadu (Meliphagidae sp.) yang menghiasi udara dengan gerakan dan suaranya. 

Sayangnya, hidrologi kawasan itu tak memiliki catatan khusus yang tercatat, seolah aliran kehidupan air di sini telah terserap oleh laju perubahan di sekitarnya.
 
Peta tua tahun 1904 memperlihatkan kawasan ini masih dikelilingi sawah ladang dengan sedikit permukiman. Namun kenyataan saat ini sungguh berbeda. 

Saat dikunjungi tahun 2021, kawasan yang seharusnya menjadi tempat konservasi telah semakin terhimpit oleh pemukiman penduduk. Bahkan, terdapat sepasang suami istri yang tinggal dengan beberapa ternak unggas di dalam kawasan, bertempat di sebuah tenda.
 
Data resmi dari BBKSDA Jawa Barat menyatakan luas kawasan 2,5 hektar, namun hasil analisis foto satelit dan pelacakan batas kawasan menunjukkan luasnya kini hanya berkisar 0,6 – 0,75 hektar saja. 

Taman Junghuhn menjadi salah satu dari lima kawasan konservasi pertama di Preanger-Regentschappen (Jawa Barat), namun berbeda dengan yang lain, seperti CA Takokak, Cigenteng, Cipanji, dan Nusa Gede, Panjalu kawasan ini kini menghadapi ancaman penyusutan yang nyata. 

Satu saudaranya, Cagar Alam Tomo di Sumedang, bahkan telah hilang dari daftar kawasan konservasi, mungkin karena luasnya yang hanya 1 hektar membuatnya terlupakan.
 
Menurut dokumen penetapan lama, batas kawasan semula meliputi tanah sewa panjang milik Tuan GB Walter di utara dan barat, persil sewa Goenoeng Poetri serta ladang penduduk pribumi di timur, dan kombinasi hak sewa serta ladang pribumi di selatan. 

Kini, batas-batas tersebut telah sulit dikenali di tengah hamparan bangunan yang tumbuh subur.
 
Meskipun menghadapi tantangan besar, kawasan ini tetap dapat dijangkau dengan mudah melalui rute Bandung – Lembang sejauh kurang lebih 20 kilometer dengan kondisi jalan yang cukup baik. 

Rindangnya pepohonan masih menjadi daya tarik bagi masyarakat sekitar untuk berkunjung, meskipun tidak banyak yang menyadari makna sejarah dan konservasi yang terkandung di dalamnya.
 
Taman Junghuhn bukan sekadar potongan tanah hijau di tengah pemukiman. Ia adalah potret nyata bagaimana kawasan konservasi bisa terdesak oleh laju pembangunan manusia, sebuah pengingat bahwa sejarah dan alam membutuhkan tempat di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.***


Editor : Ahmad Sayuti