Merajut Mimpi dari Balik Pagar Asrama
SETAHUN berjalan, siswa SRMA 40 Ambon mulai terbiasa dengan kehidupan asrama. Mereka perlahan menemukan potensi dan menatap masa depan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Menjelang sore, kegiatan ekstrakurikuler di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 40 Ambon hampir selesai. Sejumlah siswa masih berlatih olahraga, seni, dan kegiatan akademik, sementara Kepala Sekolah Afia Fransina Joris mengamati dari sisi lapangan.
Pemandangan itu berbeda dibanding setahun lalu. Saat sekolah pertama dibuka, kehidupan berasrama masih terasa asing bagi sebagian siswa.
Ada yang belum terbiasa bangun pagi, mengikuti aturan, menjaga kebersihan, hingga menjalani rutinitas belajar dan beribadah.
Beberapa bahkan sempat mencoba melompati pagar untuk keluar. Perkelahian antarsiswa juga pernah terjadi. Afia dan para guru memilih menghadapi proses tersebut perlahan.
"Saya kalau pulang dari sekolah ini bisa sampai jam 12 malam," kata Afia, mengenang masa awal SRMA 40 Ambon, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (27/9).
Kini, siswa mulai terbiasa. Mereka menjaga lingkungan, menata barang, mengikuti pembelajaran, serta menjalani kegiatan asrama seperti rumah sendiri.
"Sekarang, kalau anak lompat pagar sudah tidak ada lagi. Mereka sudah mulai merasa sekolah ini seperti rumah sendiri," ujarnya.
SRMA 40 Ambon kini dihuni 93 siswa dari Kota Ambon dan sebagian wilayah Maluku Tengah. Mereka berasal dari keluarga desil 1 dan 2, kelompok masyarakat miskin dan miskin ekstrem.
Latar belakang mereka beragam. Ada anak buruh angkut pelabuhan, nelayan, pemulung, pedagang makanan, hingga anak yang hidup bersama ibu setelah kehilangan ayah.
Sekolah menyediakan pendidikan sekaligus tempat tinggal, makanan, pakaian, perlengkapan belajar, serta fasilitas pengembangan minat dan bakat. Setiap siswa mendapat laptop dan pembelajaran menggunakan smartboard.
Kesempatan itu perlahan membuka ruang bagi siswa untuk menemukan kemampuan mereka.
Setelah menjalani pendidikan sekitar satu tahun, sekolah memetakan minat dan bakat siswa. Ada yang menonjol dalam sains, bahasa, seni, maupun olahraga.
Prestasi mulai bermunculan. Seorang siswa mengikuti kompetisi karate hingga tingkat nasional. Siswa lainnya masuk final Olimpiade Sains tingkat Provinsi Maluku dan meraih prestasi dalam berbagai kompetisi sains.
Dua siswa, Aditya dan Chelsea, bahkan masuk kategori kemampuan superior berdasarkan pemetaan sekolah. Aditya merupakan anak buruh angkut pelabuhan, sementara Chelsea merupakan anak nelayan yang ibunya berjualan jamur.
"Kalau distimulus lagi dengan pendidikan yang baik dan sarana-prasarana penunjang, anak-anak kita bisa cenderung menjadi anak-anak yang superior. Dan itu sudah mulai terlihat," kata Afia. (gin)
Editor : Inilahkoran

