Merawat Cipakancilan, Menjaga Wajah Kota

KALI Cipakancilan dibersihkan. Bukan sekadar mengangkat sampah, tetapi merawat wajah kota.

Merawat Cipakancilan, Menjaga Wajah Kota
BERSIHKAN SUNGAI: Jajaran Pemkot Bogor bersama pelajar dan unsur masyarakat membersihkan kali Cipakancilan sepanjang Jalan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Selasa (21/7).

Oleh: Rizki Mauludi

Pagi itu, aliran Kali Cipakancilan di sepanjang Jalan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, tidak hanya menjadi tempat air mengalir. 

Sungai yang selama ini menjadi bagian dari denyut kehidupan Kota Bogor itu menjadi ruang gotong royong, ketika ratusan warga, pelajar, dan jajaran Pemerintah Kota Bogor turun langsung membersihkan bantaran sungai.

Kegiatan bersih-bersih yang berlangsung Selasa (21/7) itu taka sekadar mengangkat sampah dari badan kali. Pemerintah Kota Bogor juga melanjutkan penataan kawasan Paledang hingga simpang Lapas Kelas IIA Paledang Bogor, sebagai bagian dari upaya mempercantik kawasan perkotaan.

Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk pelajar dari sekolah negeri maupun swasta. Salah satunya SMP BPK Penabur yang ikut berpartisipasi dalam aksi pembersihan dan penanaman pohon di sekitar bantaran kali.

"Ada ratusan orang yang terlibat, khususnya pelajar ada 100-an orang. Kemudian juga, yang kedua programnya adalah memastikan, program penanaman pohon ini sosialisasinya sampai ke sekolah-sekolah yang lain juga, termasuk swasta," tutur Dedie.

Menurut Dedie, keterlibatan pelajar menjadi bagian penting untuk membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Dengan mengenalkan langsung kondisi sungai, masyarakat diharapkan memahami pentingnya menjaga kebersihan dan tidak lagi menjadikan aliran air sebagai tempat pembuangan sampah.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari penataan kawasan setelah pembongkaran Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Paledang. Pemkot Bogor berencana mempercantik sejumlah ruas jalan yang berada di sekitar kawasan tersebut, mulai dari Jalan MA Salmun, Kapten Muslihat, Mayor Oking, hingga Jalan Paledang.

"Nah, ini akan kami tata supaya lebih cantik lagi. Karena ini kan daerah yang cukup padat ya, di mana Bogor Line salah satu jalur KRL terpadat di Indonesia, dan ini saya pikir harus kami coba sesuaikan dengan perubahan yang ada di dalam stasiun," jelasnya.

Di tengah kegiatan itu, perhatian Dedie juga tertuju pada sosok warga bernama Uya. Selama hampir 15 tahun, pria tersebut secara rutin memilah sampah yang terbawa dan dibuang ke sungai. Sampah plastik yang masih memiliki nilai ekonomi dikumpulkan untuk kemudian dijual kembali.

Dedie mengapresiasi kepedulian Uya yang tetap menjaga sungai meski usianya telah mencapai sekitar 70 tahun.

"Ya, yang paling menyedihkan sebetulnya dan paling banyak kami jumpai itu adalah pampers. Saya imbau kepada orang tua untuk ikut bertanggung jawab kepada lingkungan. Anaknya jadi tanggung jawab kita, tetapi jangan lupa, pampers itu tidak bisa dibuang di sungai," ujarnya.

Menurut Dedie, sampah rumah tangga seperti popok sekali pakai masih menjadi persoalan besar yang ditemukan di aliran sungai. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci agar upaya membersihkan sungai tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

"Pampers itu tidak bisa dibuang di solokan. Kami juga akan ikut program 'Muliakan Sungai' dari Pak AHY sebagai bagian dari kampanye pelestarian alam dan lingkungan," tambahnya.

Dedie juga meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor memberikan dukungan agar Uya tetap semangat menjalankan kepeduliannya terhadap lingkungan.

"Ya, karena mengumpulkan sampah itu butuh tenaga, apalagi usia Pak Uya sudah 70 tahun," pungkasnya. (gin)


Editor : Inilahkoran