Milangkala Tatar Sunda 2026 Jadi Motor Ekonomi Jabar, Serap 3.920 Pekerja
Perayaan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 beberapa waktu lalu, turut menjadi penggerak ekonomi rakyat, dengan nilai transaksi menembus lebih Rp80 miliar
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Perayaan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 beberapa waktu lalu, turut menjadi penggerak ekonomi rakyat, dengan nilai transaksi menembus lebih dari Rp80 miliar serta menyerap hampir 4.000 tenaga kerja.
Besarnya efek ekonomi dari event budaya tersebut muncul dari kombinasi tingginya mobilitas warga, transaksi pelaku usaha kecil, hingga lonjakan aktivitas jasa penunjang selama kegiatan berlangsung di sembilan kabupaten/kota.
Data penyelenggara mencatat, total perputaran ekonomi dari rangkaian acara budaya mencapai sekitar Rp60,67 miliar. Angka tersebut berasal dari aktivitas ekonomi yang tercipta di daerah penyelenggara. Jika digabung dengan pengeluaran langsung selama event yang mencapai Rp24,3 miliar, maka total dampak ekonomi diperkirakan melampaui Rp80 miliar.
Ledakan partisipasi masyarakat menjadi faktor utama pengungkit ekonomi itu. Sepanjang pelaksanaan kirab, jumlah penonton ditaksir mencapai 1.213.500 orang, berasal dari akumulasi warga yang memadati titik awal, area akhir, hingga masyarakat yang berdiri di sepanjang jalur kirab.
Kota Bandung tercatat sebagai wilayah dengan antusiasme tertinggi. Sedikitnya 281 ribu orang diperkirakan menyaksikan acara tersebut dengan dampak ekonomi mencapai Rp14,05 miliar.
Setelah Bandung, Sumedang mencatat sekitar 170 ribu penonton dengan potensi ekonomi Rp8,5 miliar, diikuti Cianjur yang menghadirkan 165 ribu warga dengan estimasi transaksi Rp8,25 miliar.
Di wilayah Priangan Timur, Tasikmalaya diperkirakan dikunjungi 120 ribu orang dengan nilai ekonomi sekitar Rp6 miliar. Sementara Ciamis mencatat 106 ribu pengunjung senilai Rp5,3 miliar, dan Cirebon diperkirakan menghasilkan transaksi Rp4,87 miliar dari sekitar 97.500 penonton.
Adapun Bogor meski hanya mencatat sekitar 70 ribu pengunjung, justru menghasilkan potensi ekonomi yang cukup tinggi, yakni Rp6,25 miliar. Sementara Karawang mencatat 125 ribu penonton dengan estimasi Rp3,75 miliar, serta Garut sekitar 65 ribu orang dengan perputaran uang mencapai Rp3,25 miliar.
Nilai ekonomi tersebut dihitung dari berbagai pola belanja masyarakat selama event berlangsung. Pengeluaran warga meliputi konsumsi makanan dan minuman, ongkos transportasi, biaya parkir, pembelian produk UMKM, tiket, hingga kebutuhan akomodasi.
Dalam perhitungan penyelenggara, pengeluaran wisatawan lokal diperkirakan berada pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp350 ribu per orang. Untuk kebutuhan transportasi seperti parkir dan bahan bakar, rata-rata biaya diperkirakan Rp15 ribu sampai Rp30 ribu. Sementara belanja kuliner berada pada rentang Rp35 ribu hingga Rp70 ribu.
Sisi lain, pembelian produk UMKM dan ekonomi kreatif diproyeksikan mencapai Rp150 ribu, sedangkan tiket acara berkisar Rp0 hingga Rp100 ribu. Standar penghitungan tersebut merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat rata-rata belanja wisatawan lokal sekitar Rp50 ribu.
Efek domino kegiatan ini paling terasa di sektor usaha mikro. Sedikitnya 2.305 UMKM ikut terlibat aktif di area penyelenggaraan, membuka peluang pasar baru sekaligus meningkatkan transaksi pelaku ekonomi lokal.
Tidak hanya itu, Kirab Budaya tersebut juga menciptakan ruang kerja sementara bagi masyarakat. Penyelenggara mencatat sebanyak 3.920 tenaga kerja dilibatkan selama rangkaian acara, mulai dari operasional, logistik, keamanan, hingga layanan pendukung lainnya.
Pada aspek budaya, kegiatan ini melibatkan 10.983 pelaku seni, talenta budaya, serta peserta kirab. Kehadiran delegasi dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat mempertegas posisi Milangkala Tatar Sunda sebagai panggung budaya terbesar yang mempertemukan identitas daerah dalam satu perayaan bersama.
Rangkaian acara yang berlangsung sejak 2 hingga 16 Mei 2026 itu juga mencatat sekitar 219.862 pengunjung langsung, dengan total lintasan kirab mencapai 21,6 kilometer.
Selain dampak ekonomi, penyelenggara menilai kegiatan tersebut ikut memperkuat kohesi sosial masyarakat, memperluas promosi daerah, serta meningkatkan kebanggaan terhadap identitas budaya lokal atau local pride. Aspek lingkungan juga disebut mulai menjadi perhatian melalui penguatan kesadaran kebersihan dan pengelolaan kawasan selama acara berlangsung.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menilai, penyelenggaraan Milangkala Tatar Sunda memberikan efek nyata terhadap pergerakan ekonomi di berbagai wilayah.
“Dari sisi ekonomi memberikan implikasi yang cukup kuat. Coba lihat hotel-hotel penuh, kunjungan ke Jawa Barat meningkat, dan beberapa daerah mulai tampak bersih,” ujar Dedi.
Menurutnya, penyelenggaraan Kirab Budaya tersebut merupakan momentum besar yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jawa Barat. Karena itu, evaluasi menyeluruh perlu dilakukan agar kualitas penyelenggaraan semakin baik di masa mendatang.
“Ke depan seluruh daerah harus jauh lebih baik. Kebersihan lingkungannya harus ditingkatkan, penataan lingkungannya harus dikuatkan, tata arsitekturnya harus segera dibangun, branding dikembangkan, serta tata estetika harus sangat kuat,” katanya.***
Editor : JakaPermana

