Motif Mega Mendung Kini Hiasi Kemasan Brand Biskuit

Industri batik Cirebon kini menghadapi sejumlah permasalahan yang mempengaruhi kelangsungan dan perkembangan para pengrajin. 

Motif Mega Mendung Kini Hiasi Kemasan Brand Biskuit
Komarudin mengatakan, konsumen kadang sulit membedakan mana batik tulis asli dan mana yang hanya produk cetakan. Akibatnya, pasar batik tulis dan cap semakin terdesak karena kalah bersaing dalam hal harga. Padahal, batik tulis khas Cirebon, seperti motif mega mendung, memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa ditemukan pada batik hasil cetak. (maman suharman)

INILAHKORAN, Cirebon - Industri batik Cirebon kini menghadapi sejumlah permasalahan yang mempengaruhi kelangsungan dan perkembangan para pengrajin. 

Salah satu permasalahan utama yang dihadapi industri batik Cirebon adalah masuknya produk tekstil dengan motif batik dari luar, yang mengancam keberadaan batik tradisional Cirebon.

"Produk tekstil bermotif batik itu beredar di mana-mana, dan harganya jauh lebih murah. Akibatnya, konsumen banyak yang beralih ke produk tersebut tanpa menyadari perbedaan kualitas maupun keaslian motif,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha dan Perajin Batik Indonesia Komarudin saat ditemui dalam acara CSR Oreo Berbagi, Selasa 12 November 2024.

Komarudin mengatakan, konsumen kadang sulit membedakan mana batik tulis asli dan mana yang hanya produk cetakan. Akibatnya, pasar batik tulis dan cap semakin terdesak karena kalah bersaing dalam hal harga. Padahal, batik tulis khas Cirebon, seperti motif mega mendung, memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa ditemukan pada batik hasil cetak.

"Membanjirnya produk tekstil bermotif batik memang menjadi tantangan sendiri buat para perajin. Tapi kami yakin, batik Cirebon punya bangsa pasar sendiri, mereka akan tetap datang di tengah gempuran produk tekstil," ungkapnya.

Dia menyebutkan, selain masalah persaingan produk, industri batik Cirebon juga menghadapi krisis dalam regenerasi pembatik. Jumlah generasi muda yang tertarik untuk menjadi pembatik semakin berkurang. Banyak anak muda yang lebih memilih bekerja di industri lain atau berwirausaha di bidang digital, yang dinilai lebih menjanjikan.

"Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pembatik di Kabupaten Cirebon saat ini tersisa 4.707 orang. Angka tersebut mengalami penurunan hingga 30% dibandingkan tahun sebelumnya," ujarnya.

Komarudin menjelaskan, sebagian besar pembatik di Cirebon saat ini berusia di atas 40 tahun. Jika tidak ada generasi muda yang tertarik untuk meneruskan tradisi ini, dikhawatirkan industri batik Cirebon akan kehilangan identitasnya dan lambat laun bisa punah.

"Padahal, batik Cirebon dengan motif-motif khas seperti mega mendung, singa barong, dan lainnya telah menjadi ikon budaya lokal yang dikenal di tingkat nasional maupun internasional," jelasnya.

Sementara itu, Head of Corporate Communications and Government Affairs Mondelez Indonesia
Khrisma Fitriasari mengatakan, sebagai daya dukung terhadap industri batik Cirebon, brand Oreo dari Mondelez Indonesia memberikan dukungan nyata kepada kepada 1.400 pengrajin dan pengusaha batik di Cirebon.

“Kami bertanggung jawab menjaga kekayaan budaya Indonesia termasuk batik, yang menjadi warisan bernilai tinggi.  Oreo Berbagi ini adalah wujud dukungan kami agar batik dapat terus dilestarikan dan dinikmati, baik di dalam maupun luar negeri,” jelas Khrisma.

Khrisma menambahkan, dukungan yang dilakukan pihaknya adalah menyalurkan bantuan berupa alat-alat produksi batik serta paket pengembangan usaha. Tujuannya, meningkatkan produktivitas dan manajemen usaha.

"Total donasi yang diberikan dalam program ini mencapai lebih dari satu miliar rupiah. Oreo juga menjadikan motif batik mega mendung sebagai corak dalam kemasan edisi khusus," tukasnya. 


Editor : Doni Ramdhani