MPR Sebut Masalah Tata Suara Jadi Biang Kerok Polemik LCC 4 Pilar
Selain dari kelalaian juri, pernyataan dari pimpinan MPR RI mengindikasikan bahwa masalah sebenarnya terletak pada tata suara.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, secara eksplisit menyoroti buruknya kualitas tata suara (sound system) sebagai salah satu faktor utama kekacauan tersebut.
Publik dibuat geram oleh alasan juri Dyastasita WB yang menganulir jawaban peserta karena masalah "artikulasi".
Selain dari kelalaian juri, pernyataan dari pimpinan MPR RI mengindikasikan bahwa masalah sebenarnya terletak pada teknis audio di lokasi acara.
"Saya melihat kelalaian panitia dan juri, terutama terkait teknis tata suara dan mekanisme banding yang tidak berjalan baik," ungkap Abcandra Akbar dalam keterangannya.
Kondisi ini memicu spekulasi bahwa juri mungkin tidak mendengar jawaban peserta dengan jelas akibat kualitas audio yang buruk, namun bukannya melakukan pengecekan ulang, juri justru langsung memberikan poin minus.
Masalah tata suara ini tidak hanya mengganggu proses tanya jawab, tetapi juga melumpuhkan mekanisme banding.
Dalam video yang viral, protes dari siswa SMAN 1 Pontianak terkesan diabaikan dan "dipatahkan" oleh pembawa acara (MC).
Kurangnya perangkat audio yang responsif membuat keberatan peserta tidak terdengar dengan baik oleh dewan juri, yang kemudian berlindung di balik kalimat "keputusan juri bersifat final".
Abcandra menekankan bahwa hal teknis seperti ini seharusnya tidak menjadi penghalang dalam sebuah kompetisi intelektual yang bersifat eksak.
Buntut dari insiden ini, MPR RI menjanjikan evaluasi total, termasuk standarisasi vendor tata suara dan infrastruktur pendukung lomba di masa depan.
Abcandra Akbar memastikan bahwa aspek teknis tidak boleh lagi merugikan prestasi siswa dan mencoreng integritas lembaga.
Editor : Firda Rachmawati

