Musim Hujan Bayangi Pasokan Pangan Jabar
ANCAMAN gangguan panen mulai diantisipasi. Bawang merah dan cabai menjadi sorotan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Musim hujan tak hanya membawa perubahan cuaca, tetapi juga menyimpan tantangan bagi ketersediaan pangan.
Curah hujan tinggi di sejumlah daerah sentra produksi berpotensi mengganggu panen bawang merah dan aneka cabai, dua komoditas hortikultura yang pergerakan harganya kerap menjadi perhatian masyarakat.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai memberi perhatian khusus terhadap potensi gangguan tersebut. Pasalnya, hujan dengan intensitas tinggi dapat menghambat aktivitas panen, bahkan merusak hasil pertanian. Dampaknya bukan hanya pada jumlah produksi, melainkan juga kualitas komoditas hingga kelancaran distribusi ke pasar.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, Linda Al Amin, mengatakan ancaman itu perlu diantisipasi sejak dini. Terlebih, harga bawang merah dan cabai mulai menunjukkan kecenderungan meningkat di tingkat konsumen.
"Memasuki musim hujan, Pemprov Jawa Barat memberikan atensi khusus pada komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai-cabaian," kata Linda dalam keterangannya, Selasa (3/11).
Meski demikian, kondisi pangan Jawa Barat secara umum masih relatif terkendali. Hasil pemantauan DKPP Jabar menunjukkan sebagian besar komoditas strategis memiliki pasokan cukup, kendati pergerakan harga di pasar belum sepenuhnya stabil.
Harga daging ayam ras tercatat berkisar Rp35.500 hingga Rp37.000 per kilogram. Sementara itu, telur ayam ras segar berada di kisaran Rp25.000 per kilogram. Di sisi lain, harga cabai merah besar dan cabai rawit justru mengalami penurunan cukup signifikan.
Berbeda dengan dua komoditas tersebut, beras dan minyak goreng curah masih menghadapi tekanan kenaikan harga. Pergerakan harga keduanya turut menjadi perhatian karena dapat memberikan pengaruh terhadap inflasi bulanan.
"Secara umum pasokan pangan di Jawa Barat dalam kondisi aman dan harga relatif terkendali, meskipun ada fluktuasi pada beberapa komoditas strategis," ujar Linda.
Ketersediaan pangan Jawa Barat hingga Oktober masih mencatatkan surplus berdasarkan neraca pangan. Namun, angka tersebut tidak serta-merta menjamin seluruh komoditas berada dalam kondisi aman.
DKPP Jabar mencatat daging sapi atau kerbau serta minyak goreng masuk kategori waspada. Kedua komoditas itu masih bergantung pada pasokan dari luar Jawa Barat. Artinya, kelancaran distribusi antardaerah menjadi salah satu penentu ketersediaannya di pasar.
"Hal itu dikarenakan komoditas tersebut merupakan komoditas yang disuplai dari provinsi lain sehingga ketersediaannya tergantung dari pasokan luar Jawa Barat," tutur Linda. (yuliantono/gin)
Editor : Inilahkoran

