Nana Berjuang Rawat Cucu di Gubuk 2x3 Meter

Nana Berjuang Rawat Cucu di Gubuk 2x3 Meter
GUBUK: Kondisi tempat tinggal Nana Kustaman di di Kampung Sindanghayu, RT 003/RW 005, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya. Nana menanti bantuan dari pemerintah.(INILAH/NUNUNG NUROHMAN)

INILAH, Tasikmalaya- Di atas puing-puing reruntuhan rumah, sebuah gubuk berukuran sekitar 2×3 meter menjadi tempat Nana Kustaman (74) bertahan hidup bersama cucunya, Seka yang kini berusia 12 tahun.

Kondisi tempat tinggal mereka di Kampung Sindanghayu, RT 003/RW 005, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, jauh dari kata layak huni.

Bangunan sederhana itu hanya beratapkan asbes.

Bahkan, diatas gubuk terpaksa ditutup menggunakan banner bekas agar air hujan tidak langsung masuk ke dalam ruangan.

Bagi Nana, gubuk tersebut bukan sekadar tempat berteduh. Di sanalah ia merawat Seka seorang diri sejak cucunya masih berusia sekitar dua tahun.

“Dari tahun 2003 sama cucu saja, dan kondisi cucu lagi sakit. Tuna wicara, kalau kuping bisa denger,” tutur Nana.

Ia mengaku, Seka telah dititipkan kepadanya sejak masih kecil, ketika orang tua anak tersebut berpamitan untuk bekerja. Namun, hingga kini, keduanya tidak pernah kembali dan keberadaan mereka tidak diketahui.

“Dari kecil dititipin, katanya mau kerja dan anaknya dititip, tapi gak balik lagi sampai sekarang dan keberadaannya gak tahu ada dimana,” ujarnya.

Sejak saat itu, Nana menjalani hari-harinya dengan merawat sang cucu.

Sebelum kondisinya seperti sekarang, ia pernah bekerja sebagai penarik becak. Kini, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan dari keluarga yang sesekali datang membantu.

“Kadang-kadang dari keluarga dibantu sama ade saya juga,” katanya.

Nana mengaku memiliki empat anak yang kini tinggal berjauhan, di antaranya di Banjar, Tangerang, dan Singaparna. Namun, komunikasi dengan mereka sudah terputus sehingga ia menjalani kesehariannya bersama sang cucu.

Kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan semakin menyulitkan mereka, terutama ketika hujan turun.

Atap yang tidak memadai membuat air masuk dan membasahi ruangan tempat mereka beristirahat.

“Hujan pertama basah semua, gak bisa tidur,” ungkap Nana.

Ia mengatakan, tempat yang kini ditempatinya dahulu merupakan rumah sederhana yang hanya digunakan untuk tidur. Seiring waktu, bangunan tersebut runtuh dan menyisakan puing-puing yang kini menjadi alas berdirinya gubuk darurat.

Di tengah keterbatasan itu, Nana hanya berharap tempat tinggalnya dapat diperbaiki agar ia dan cucunya bisa hidup lebih aman dan nyaman.

“Pengennya dibangun supaya punya rumah yang layak huni saja,” ucapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Kahuripan, Ruswan Fladimer Sialana, mengatakan pihak kelurahan telah berkoordinasi dengan sejumlah perangkat daerah untuk membantu Nana dan cucunya.

Dinas Sosial telah merespons dengan memberikan sejumlah bantuan, di antaranya terpal, kasur, dan sembako.

Sementara itu, Dinas Kesehatan melalui Puskesmas juga telah mendatangi lokasi untuk memberikan obat kepada Seka.

“Kemudian mereka menyimpan nomor kontak di sini oleh Puskesmas, jadi kalau ada apa-apa yang tidak bisa ditangani oleh warga bisa langsung menghubungi Puskesmas,” kata Ruswan.

(nunung nurohman)


Editor : Inilahkoran