Nataru, Menteri Hanif Tinjau Pengelolaan Sampah di Stasiun Senen dan Terminal Pulo Gebang

Kunjungan tersebut bertujuan untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan masyarakat, termasuk dalam pengelolaan lingkungan di lokasi-lokasi publik tersebut.

Nataru, Menteri Hanif Tinjau Pengelolaan Sampah di Stasiun Senen dan Terminal Pulo Gebang
Nataru, Menteri Hanif Tinjau Pengelolaan Sampah di Stasiun Senen dan Terminal Pulo Gebang

INILAHKORAN, Bogor - Di masa liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengunjungi dua lokasi penting, yaitu Stasiun Senen di Jakarta Pusat dan Terminal Pulo Gebang di Jakarta Timur. 

Kunjungan tersebut bertujuan untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan masyarakat, termasuk dalam pengelolaan lingkungan di lokasi-lokasi publik tersebut.

Di Stasiun Senen, Menteri Hanif Faisol Nurofiq menyoroti pentingnya pengelolaan sampah di tempat-tempat yang menjadi pusat pergerakan masyarakat. 

Ia juga mengapresiasi langkah-langkah ramah lingkungan yang telah diterapkan oleh pihak KAI dan Kepala Stasiun Senen agar lingkungannya bersih dari sampah maupun karena pengelolaan sampah yang sudah baik.

"Kita lihat langsung berbagai upaya go green yang sudah dilakukan di Stasiun Senen. Jika dibandingkan beberapa dekade lalu, kini stasiun kereta api sudah jauh dari kesan kumuh dan tidak bersih," kata Hanif Faisol Nurofiq kepada wartawan, Jumat, 27 November 2024.

Pria yang belum lama bergabung di Partai Amanat Nasipnal (PAN) itu menginstruksikan agar Stasiun Senen terus menjadi pelopor perubahan perilaku masyarakat dalam memilah, memilih, dan mengelola sampah. 

Hanif Faisol Nurofiq pun meminta Kepala Stasiun Senen untuk meningkatkan Pengawasan dan menjadikan Stasiun Senen sebagai pusat edukasi pengelolaan sampah untuk masyarakat.

"Saya ingin pengawasan stasiun ini mampu menjadikan lokasi lokasi yang akan menstimulasi perubahan karakter dan perdaban bangsa kita melalui pilah, pilih sampah dan kelola sampah," paparnya.

Stasiun Senen, paparnya juga menyediakan fasilitas ramah lingkungan, seperti stasiun pengisian ulang air minum untuk mengurangi sampah plastik.

"Tadi kita lihat hampir disetiap 5-10 meter tersedia air isi ulang, sehingga tidak perlu lagi membawa botol plastik yang kemudian akan menimbulkan sampah plastik tetapi cukup membawa tumbler," paparnya.

Kunjungan dilanjutkan ke Terminal Pulo Gebang, yang merupakan salah satu terminal terbesar di Jakarta. 

Kepada pengelola Terminal Pulo Gebang, Hanif menekankan tantangan besar dalam mengelola sampah di terminal dengan luas dan volume penumpang yang besar ini.

Untuk itu, ia meminta kepada pengelola Terminal Pulo Gebang untuk melakukan Edukasi Intensif, mengingatkan penumpang dan pelaku usaha di terminal untuk mengelola sampah masing-masing.

"Kepada Pimpinan Terminal Pulo Gebang ini harapan saya tidak bosan bosan untuk mengedukasi. Jadi bak ' bak sampah tadi di area tertentu seperti di tenan tenan kalau memang memungkinkan tidak perlu disediakan. Jadi tenan tenan itu yang harus mengelola sendiri tidak membebankan kepada pengelola kawasan dan menyediakan tempat sampah yang lebih komplit paling tidak ada tiga sampah yang berbeda yang memudahkan mengelola lebih lanjut," pintanya.

Hanif pun berharap, Terminal Pulo Gebang dapat menjadi contoh tata kelola sampah yang mandiri, sehingga sisa yang dikirim ke Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Bantar Gebang hanyalah residu. (Reza Zurifwan)


Editor : Firda Rachmawati