Nelayan Jabar Melaut Tanpa Perlu Takut

Nelayan Jabar Melaut Tanpa Perlu Takut
PERLINDUNGAN: Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar memperluas perlindungan asuransi bagi nelayan, termasuk di Cirebon, sebagai bagian dari upaya memberikan jaminan kesehatan kepada tenaga kerja.(Antara Foto)

INILAH, Bandung- Bagi seorang nelayan, laut bukan sekadar hamparan air, melainkan tumpuan hidup tempat mereka mempertaruhkan nyawa demi menghidupi keluarga.

Sadar akan besarnya risiko yang dihadapi para penjaga lautan ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah nyata untuk menghadirkan rasa aman di tengah ombak.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa Pemprov Jabar tengah memperluas program perlindungan asuransi kesehatan dan ketenagakerjaan bagi para nelayan, termasuk mereka yang bersandar di pelabuhan Cirebon.

Saat ini, program tersebut telah memayungi satu juta pekerja informal, petani, dan nelayan. Targetnya, pada tahun 2027, angka ini akan melonjak hingga empat juta penerima manfaat.

"Di 2027 akan ditambah menjadi empat juta. Jadi nanti nelayan di Kota dan Kabupaten Cirebon, serta seluruh pantai utara (Pantura), semuanya harus terlindungi," ujar Dedi dengan penuh komitmen saat berkunjung ke Cirebon, Kamis (17/9).

Ia pun menginstruksikan Dinas Kelautan untuk bergerak cepat melengkapi data nelayan agar tidak ada satu pun warga yang terlewat.

Ia mengatakan pendataan nelayan di seluruh Jabar diperlukan agar perlindungan asuransi dapat diberikan secara menyeluruh, dengan pembiayaan dari Pemprov Jabar dan dapat dikerjasamakan bersama pemerintah kabupaten dan kota.

Menurut Dedi, perlindungan kesehatan dalam program tersebut mencakup seluruh penyakit yang ditanggung sesuai ketentuan, sedangkan nelayan yang mengalami kecelakaan kerja mendapat santunan dan perlindungan.

“Kalau ada jaminan kematian, sampai anaknya mendapat beasiswa sampai dia selesai kuliah,” ujarnya.

Ia pun meminta nelayan mengelola penghasilan dari aktivitas melaut secara bijak, termasuk menyisihkan pendapatan untuk tabungan agar dapat menopang kehidupan keluarga.

Selain perlindungan nelayan, Dedi menilai kelestarian laut perlu menjadi perhatian karena kondisi laut berkaitan dengan aktivitas pembangunan dan pengelolaan lingkungan di wilayah hulu.

“Gunung diurus, laut dijaga. Ini dua hal yang sering berhubungan satu sama lain,” katanya.

Ia menjelaskan kerusakan kawasan pegunungan dapat menyebabkan sedimentasi ke sungai, sementara limbah dan sampah yang terbawa aliran sungai pada akhirnya bermuara ke laut dan mengganggu ekosistem perairan.

Dedi mengatakan Pemprov Jabar ingin mempelopori penggunaan plastik yang dapat terurai, untuk mengurangi sampah yang masuk ke laut karena benda tersebut dapat membunuh plankton dan menyebabkan ikan terpapar mikroplastik.

Ia menambahkan pembangunan kelautan tidak semata-mata berkaitan dengan perikanan, melainkan mencakup pengembangan pariwisata sehingga kawasan pesisir perlu ditunjang lingkungan yang bersih serta infrastruktur yang tertata.

“Kehadiran negara adalah bergerak pada hal-hal yang besar dan perlindungan,” katanya. (bsf) 


Editor : Inilahkoran