Neng Yuni KBB, Atlet Balap Sepeda Difabel yang Berprestasi di Dunia Tilawah

Neng Yuni, atlet balap sepeda difabel asal KBB, meraih juara 2 MTQ Jawa Barat. Ia bertekad mengharumkan daerah dan menjadi qariah internasional.

Neng Yuni KBB, Atlet Balap Sepeda Difabel yang Berprestasi di Dunia Tilawah
Dari pelana sepeda hingga alunan ayat suci Al-Qur'an, Neng Yuni (26) membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah dinding pemisah mimpi.

INILAHKORAN.ID – Keterbatasan fisik bukanlah akhir dari sebuah mimpi. Hal itu dibuktikan Neng Yuni (26), perempuan asal Kampung Cibuluh, Desa Baranang Siang, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang mampu menorehkan prestasi di bidang olahraga sekaligus seni baca Al-Qur'an.

Meski memiliki hambatan penglihatan, Neng Yuni tetap menjalani aktivitas dengan penuh semangat. Ia menjadi atlet balap sepeda di bawah naungan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Bandung Barat, sekaligus menekuni dunia tilawah sebagai seorang qariah.

Hari-harinya diisi dengan latihan fisik dan pendalaman ilmu agama. Pada pagi hingga siang hari, ia menjalani program latihan sepeda statis di ruangan tertutup maupun berlatih menggunakan sepeda tandem di jalan raya bersama pendamping.

Bagi Neng Yuni, kondisi yang dialaminya bukanlah penghalang untuk terus berkembang. Ia justru memandang hambatan penglihatan sebagai anugerah dari Allah SWT yang harus disyukuri.

“Meskipun kondisi saat ini dengan hambatan penglihatan, saya tetap bersyukur dan tidak patah semangat. Keterbatasan ini adalah sebuah anugerah dari Allah,” kata Neng Yuni, Sabtu (7/11/2026).

Menyeimbangkan Olahraga dan Tilawah Al-Qur'an

Di balik ketangguhannya sebagai atlet balap sepeda, Neng Yuni juga memiliki perjalanan spiritual yang panjang. Ketertarikannya terhadap seni membaca Al-Qur'an bermula pada 2018 saat menempuh pendidikan di SLB Negeri Citeureup.

Di sekolah tersebut, ia mulai mengenal huruf-huruf Al-Qur'an melalui sentuhan jemarinya. Perjalanan itu kemudian semakin serius ketika pada 2021 ia berguru di Pesantren Khusus Qori Nurul Hidayah Bunder, Cipongkor.

Menjalani dua aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dan disiplin tinggi bukan perkara mudah. Neng Yuni harus membagi waktu antara latihan fisik sebagai atlet dan pendalaman tilawah.

Latihan olahraga dilakukan pada paruh hari pertama. Sementara sore hingga malam, ia mengisi waktu dengan latihan vokal, tilawah, serta berinteraksi dengan masyarakat melalui siaran langsung di TikTok.

Menurutnya, ada satu nilai yang menjadi penghubung antara dunia olahraga dan seni membaca Al-Qur'an, yakni kedisiplinan. Ketahanan mental yang ditempa melalui latihan sepeda juga diterapkan ketika mendalami seni tilawah.

“Tetap fokus berlatih dan penuh semangat dalam keadaan apa pun,” ujarnya.

Untuk menjaga kualitas suara di tengah aktivitas fisik yang cukup menguras energi, Neng Yuni rutin berolahraga pada pagi hari. Ia juga kerap bersenandung untuk melatih kelenturan cengkok suara sekaligus menjaga penguasaan tajwid.

Debut di Peparda VII 2026

Perjalanan Neng Yuni tidak lepas dari berbagai tantangan. Tahun 2026 menjadi salah satu babak penting dalam kehidupannya setelah dipercaya mengikuti ajang Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII 2026.

Kejuaraan tersebut menjadi debutnya dalam kompetisi balap sepeda disabilitas. Ia harus menghadapi tantangan mental sekaligus berupaya memberikan hasil terbaik bagi Kabupaten Bandung Barat.

Di bidang tilawah, tantangan yang dihadapinya berbeda. Gangguan tenggorokan dan suara serak kerap menjadi kendala dalam menjaga kualitas bacaan Al-Qur'an.

Namun, dukungan keluarga, terutama orang tua, menjadi sumber kekuatan bagi Neng Yuni untuk terus bertahan dan berlatih.

“Pernah ketika sering mengalami gangguan tenggorokan atau serak sehingga suara menjadi terganggu. Tapi alhamdulillahnya orang tua yang selalu kasih support, sehingga timbul semangat yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Dukungan tersebut turut mengantarkannya meraih prestasi sebagai juara kedua Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat Provinsi Jawa Barat. Pencapaian itu menjadi salah satu momen membanggakan dalam perjalanan hidupnya, termasuk kesempatan bertemu mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Neng Yuni Ingin Tembus Podium Nasional dan Jadi Qariah Internasional

Kini, Neng Yuni menjadi gambaran bahwa hambatan fisik tidak harus membatasi seseorang dalam mengejar cita-cita. Dari Desa Baranang Siang, ia membawa pesan tentang semangat, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah.

Ia mengajak masyarakat, khususnya penyandang disabilitas, agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Pokoknya tetap selalu semangat, jangan menyerah. Hambatan itu bukan menjadi sebuah penghalang untuk menggapai sebuah prestasi atau mengejar mimpi,” tegasnya.

Ke depan, Neng Yuni memiliki dua cita-cita besar. Di bidang olahraga, ia ingin mengharumkan nama Kabupaten Bandung Barat dan Jawa Barat melalui prestasi di tingkat nasional.

Sementara di bidang keagamaan, ia bercita-cita menjadi qariah internasional yang mampu menyebarkan inspirasi serta mengajak masyarakat semakin mencintai dan mempelajari Al-Qur'an.

Perjalanan Neng Yuni menjadi bukti bahwa semangat dan kedisiplinan dapat membuka jalan bagi seseorang untuk meraih prestasi, meski dihadapkan pada keterbatasan.


Editor : Ahmad Sayuti