Ngeri! Di Cimenyan Saja, Lahan Kritis Tembus 800 Hektare
Ancaman lingkungan di Kabupaten Bandung kian nyata di Cimenyan saja lahan kritis mencapai 800 hektare belum lagi di wilayah lainnya
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Ancaman kerusakan lingkungan di Kabupaten Bandung kian nyata. Di Kecamatan Cimenyan saja, lahan kritis tercatat sudah mencapai sekitar 800 hektare, dan diyakini masih akan bertambah. Padahal luas Cimenyan sendiri sekitar 5.308,33 hektare.
Penyuluh Kehutanan Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Jawa Barat, Edi Kusnadi mengungkapkan, angka tersebut merupakan luasan lahan kritis yang telah berhasil didata di wilayah binaannya. Namun, kondisi di lapangan diyakini jauh lebih luas karena tersebar di berbagai titik.
“Kondisi lahan kritis di wilayah Cimenyan sangat luas. Itu mencapai ribuan hektare. Bahkan yang jelas, yang sudah kita tarik informasi, itu hampir ada 800 hektare. Tapi itu tersebar di beberapa titik,” kata Edi kepada INILAHKORAN.ID, dikutip Jumat 30 Januari 2026.
Tingginya angka lahan kritis tersebut, menurut Edi, dipicu oleh alih fungsi lahan yang dilakukan masyarakat untuk kebutuhan pertanian. Mayoritas lahan dimanfaatkan sebagai sentra tanaman sayuran, yang minim tutupan pohon keras. Kondisi ini diakuinya menjadi tantangan tersendiri bagi upaya penghijauan.
Pasalnya, lahan yang mengalami degradasi tersebut berada di luar kawasan hutan, sehingga Dishut harus berhadapan langsung dengan masyarakat sebagai pemilik maupun penggarap lahan.
“Kenapa berat? Karena kita berada di luar kawasan hutan. Kita berhadapan dengan para petani, para pemilik, para penggarap,” ucapnya.
Untuk menyiasati persoalan tersebut, Dishut Jabar menempuh pendekatan persuasif dengan mengedukasi masyarakat secara bertahap. Salah satunya dengan mendorong penanaman pohon produktif seperti durian, alpukat, dan jenis tanaman keras lainnya yang bernilai ekonomi.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan ekologi sekaligus tetap memberikan manfaat ekonomi bagi warga, terutama dalam mencegah potensi banjir dan longsor di kawasan rawan.
“Pelan-pelan mendekati. Awalnya mereka enggak mau, karena ini kan sebagai sentra penghasil tanaman sayuran. Mereka kurang respon terhadap tanaman-tanaman keras. Tapi begitu kita pendekatan, sosialisasi, ternyata mereka mau asal tanaman yang menghasilkan dan produktif,” katanya.
Edi menambahkan, kegagalan program penghijauan di masa lalu disebabkan oleh jenis tanaman yang tidak produktif sehingga kerap ditebang kembali oleh masyarakat.
Kini, upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Luasan lahan kritis di Cimenyan perlahan mulai berkurang, meski belum signifikan. Ia pun berharap keterlibatan semua pihak terus ditingkatkan demi menambah tutupan hijau di Jawa Barat.
“Kita juga harapkan kepada semua pihak, mudah-mudahan dengan kepedulian bersama ini kita dapat menjaga ekologi kita, mencegah dari bahaya bencana,” tandasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

