Okupansi Hotel Terdongkrak Aktivitas Pemerintahan Kabupaten Bandung

Berbagai aktivitatas pemerintahan pada kuartal terakhir 2022 sejak September lalu mendongkrak okupansi hotel di Kabupaten Bandung hingga 80 persen. 

Okupansi Hotel Terdongkrak Aktivitas Pemerintahan Kabupaten Bandung
General Manajer Grand Sunshine Resort & Convention Darmawan Pandoyo Drajat mengatakan okupansi hotel itu pun terdongkrak aktivitas liburan masyarakat. Selain aktivitas pemerintahan, berbagai kegiatan masyarakat Kabupaten Bandung pun berpengaruh signifikan terhadap bisnis hotel dan pariwisata. (rd dani r nugraha)

INILAHKORAN, Soreang - Berbagai aktivitatas pemerintahan pada kuartal terakhir 2022 sejak September lalu mendongkrak okupansi hotel di Kabupaten Bandung hingga 80 persen. 

Selain itu, General Manajer Grand Sunshine Resort & Convention Darmawan Pandoyo Drajat mengatakan okupansi hotel itu pun terdongkrak aktivitas liburan masyarakat. Selain aktivitas pemerintahan, berbagai kegiatan masyarakat Kabupaten Bandung pun berpengaruh signifikan terhadap bisnis hotel dan pariwisata.

Darmawan menyebutkan, di samping ramainya aktivtias pemerintahan itu biasanya bisnis perhotelan pada Oktober, November, dan Desember memang terjadi musim ramai kunjungan dengan penuhnya angka okupansi hotel di Kabupatan Bandung.

"Setiap hari, kami hampir 80 persen untuk okupansi hotel. Akhir November kemarin bahkan mendekati 85-90 persen. Desember biasanya sedikit turun, tapi masih di 80-an persen," kata Darmawan di Grand Sunshine, Soreang, belum lama ini.

Dikatakan Darmawan, peningkatan okupansi pada tiga bulan terakhir itu tak terlepas dari banyaknya kegiatan pemerintahan yang digelar. Selain itu, minat masyarakat yang berlibur dan menginap di hotel pun sudah berangsur normal pasca pandemi.

Darmawan melanjutkan, pada akhir tahun, trennya selalu menjadi puncak keraiamaian kunjungan ke hotel. Namun biasanya ada perbedaan segementasi pasar pada dua pekan awal dan dua pekan terakhir Desember.

"Pada 1-15 atau 20 Desember itu pasarnya pemerintahan yang berkegiatan. Selepas tanggal itu, murni  family staycation. Di situ biasanya agak sedikit turun, nah di atas tanggal 25 Desember penuh lagi sampai 7 Januari. Biasanya fluktuasinya begitu tiap tahun," ujarnya.

Darmawan memandang, secara umum bisnis perhotelan pun sudah jauh lebih baik ketimbang pada masa pandemi Covid-19. Namun saat ini juga tantangan yang harus dihadapi adalah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan komoditas lainnya. Hal ini sangat memengaruhi bisnis perhotelan.

"Terkadang konsumen lupa bahwa harga bahan makanan itu naik dan kami pun mengikutinya. Akhir pekan itu kan harga biasa lebih tinggi, tapi ketika harga-harga naik maka purchase power masyarakat jadi turun. Kami pasang harga Rp 1 juta untuk family staycation itu enggak laku," katanya.

Disinggung soal isu resesi pada 2023, Darmawan berkeyakinan jika Indonesia bisa terhindar. Begitu pula bisnis hotel, restoran dan pariwisata di Kabupaten Bandung dan Indonesia secara umum akan tetap berjalan, bahkan terjadi peningkatan kearah lebih baik.

"Pertemuan para kepala negara pada ajang G20 di Bali kemarin, itu membawa dampak positif. Itu  menunjukan kepada masyarakat dunia bahwa Indonesia aman, nyaman indah dan layak dikunjungi. Ibaratnya, iniloh para kepala negara kalian saja datang kesini dan mereka happy,"ujarnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bandung Use Hudaya, mengakui jika berbagai kegiatan pemerintahan banyak membantu peningkatan okupansi hotel. Sedangkan bisnis restoran atau rumah makan turut meningkat berkat aktivitas liburan masyarakat.

"Di Kabupaten Bandung terjadi peningkatan karena kegiatan pemerintahan cukup banyak. Aktivitas liburan masyarakat umum yang bukan dari kalangan pementahan, juga lumayan meningkat. Rumah makan ikut ramai seiring peningkatan aktivitas pariwisata," katanya.*** (rd dani r nugraha)


Editor : Doni Ramdhani