Orientasi Kampus Didorong Tanpa Perundungan

Orientasi Kampus Didorong Tanpa Perundungan
SAMPAIKAN KETERANGAN: Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto saat memberikan keterangan di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (19/8).

INILAH, Bandung - Masa awal kuliah semestinya menjadi pintu pertama menuju kehidupan baru. Dari ruang itu, mahasiswa mengenal kampus, menemukan teman, membangun keberanian, dan perlahan belajar meninggalkan kebiasaan sebagai siswa. 

Namun, pintu itu tidak seharusnya dibuka dengan perundungan. Pesan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto saat menghadiri kegiatan orientasi mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Rabu (19/8). 

Dia menegaskan, kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) harus menjadi ruang pengenalan yang aman dan bebas dari praktik perundungan.

“Ini suatu proses yang sangat baik. Saya sambil meninjau, tidak ada ospek perundungan, kan Pak Rektor? Dengan proses pendidikan yang baik ini juga harus diawali dengan masa orientasi yang baik pula,” kata Brian, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (19/8).

Bagi mahasiswa baru, masa orientasi merupakan langkah pertama untuk mengenali wajah kampus. Mereka mulai berkenalan dengan lingkungan akademik, tradisi, organisasi, hingga pola kehidupan yang berbeda dari masa sekolah.

Brian mengatakan, orientasi seharusnya membantu mahasiswa melewati perubahan tersebut. Status sebagai mahasiswa membawa tuntutan untuk lebih mandiri sekaligus mampu mengambil peran dalam lingkungan kampus.

“Kakak-kakak kelasnya akan mengenalkan seperti apa kehidupan di kampus. Tentunya, nantinya adik-adik mahasiswa baru itu bisa cepat beradaptasi dan aktif di lingkungan kampus,” katanya.

Karena itu, masa orientasi tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial. Ada proses pengenalan yang lebih panjang: bagaimana mahasiswa menemukan minat, membangun relasi, dan belajar menjadi bagian dari komunitas akademik.

Brian juga mendorong mahasiswa baru tidak hanya menghabiskan waktu di ruang kelas. Kehidupan kampus, menurutnya, menyediakan banyak ruang untuk belajar melalui kegiatan kemahasiswaan.

“Tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan di kampus, sehingga nantinya hard skill maupun soft skill mereka berkembang selama masa pendidikan, selama berkuliah di UPI ini,” ujarnya.

Dari organisasi, komunitas, hingga berbagai kegiatan sosial, mahasiswa dapat menemukan pelajaran yang tidak selalu tertulis di buku. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, sekaligus menghadapi perbedaan tumbuh melalui pengalaman.

Semua itu pada akhirnya menjadi bekal ketika mahasiswa meninggalkan kampus dan berhadapan dengan kehidupan masyarakat yang jauh lebih luas.

“Tentunya, kita berharap setelah lulus mereka jauh lebih siap untuk terjun di masyarakat,” katanya.

Pesan serupa datang dari Rektor UPI Didi Sukyadi. Menurutnya, menjadi mahasiswa bukan sekadar memperoleh status baru atau kebanggaan setelah mengenakan almamater.

Di balik status tersebut terdapat amanah dan tanggung jawab untuk terus belajar serta mempersiapkan diri menjadi bagian dari perubahan.

“Saudara datang untuk memperoleh pengetahuan, membangun karakter, membangun jejaring, dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari perubahan,” ujar Didi. (gin)


Editor : Inilahkoran