Pameran Lukisan “Ruang Khayal Anak #1”: Imaji Mengalir Warna Terukir
DUNIA anak penuh dengan khayalan. Lewat lukisan, mereka menemukan cara untuk menuangkannya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Seekor hewan, rumah, langit, atau sesuatu yang mungkin tak pernah benar-benar ada. Bagi anak-anak, kanvas adalah ruang tanpa batas untuk menuangkan apa pun yang tumbuh dalam kepala mereka.
Sekitar 30 anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar membawa imajinasi itu ke Loka Budaya Kota Magelang, Jawa Tengah. Sebanyak 46 karya mereka dipamerkan dalam “Ruang Khayal Anak #1”, yang berlangsung hingga 27 Agustus 2026.
Karya-karya tersebut bukan sekadar lukisan anak. Ada keberanian, kreativitas, dan cara masing-masing anak memandang dunia yang tertinggal di atas kanvas dan kertas.
Anggota panitia dari komunitas seni rupa Kelompok Yangitu Kota Magelang, Wahudi, mengatakan pameran tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk menggali bakat sekaligus mengungkapkan imajinasi mereka secara bebas.
“Karya-karya yang dipamerkan menjadi wujud anak-anak menggali kreativitas dan mengembangkan bakat berkesenian, mereka mengungkapkan imajinasi masing-masing secara murni melalui karya lukisan,” kata Wahudi di Magelang, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (23/8).
Sebagian karya dibuat di atas kanvas, sementara lainnya menggunakan kertas berukuran A3. Cat akrilik menjadi medium yang dipilih anak-anak untuk memberi warna pada gagasan mereka.
Mereka mengerjakannya dari rumah selama sekitar satu bulan. Beberapa anak bahkan membawa lebih dari satu karya untuk dipamerkan.
Namun, perjalanan sebuah lukisan ternyata bukan hanya tentang warna dan bentuk. Ada proses panjang sejak tangan pertama kali menyentuh kuas hingga sebuah karya dinyatakan selesai.
“Proses memulai melukis hingga menyelesaikan karya adalah jalan menguji kepercayaan diri,” ujar Wahudi.
Bagi anak-anak, ruang pameran juga bukan akhir dari perjalanan. Di salah satu sudut Loka Budaya, panitia menyediakan “Laboratorium Ruang Khayal”.
Tempat itu menjadi ruang terbuka bagi anak-anak untuk kembali menggambar, mencoret, dan menciptakan karya tanpa takut salah. Tidak ada tuntutan sebuah gambar harus menyerupai sesuatu. Yang penting, mereka berani mencoba. (gin)
Editor : Inilahkoran

